Sabtu, 23 Mei 2026

Opini

Opini: Harapan Politik Petani Lokal

Minoritas para elit lokal seperti tuan tanah dan raja-raja memanipulasi kerja petani untuk menopang kekuasaan politik mereka. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ANTONIUS RIAN
Antonius Rian 

Hal yang sama dapat kita temukan pada program MBG yang sekarang lebih sering disebut Makan Berbahaya Gratis. 

Bukan malah memberdayakan petani lokal melainkan yang dapat untung adalah pemilik modal tertentu. 

MBG kurang menyentuh konteks petani lokal ketika menu utamanya beras dan makanan ultraolahan. 

Bahkan cukup aneh ketika melayani anak-anak Lembata tetapi pisang yang didatangkan justru dari luar daerah dengan alasan tidak sesuai aturan–padahal beratus-ratus tahun nenek moyang Lembata makan pisang yang tumbuh di Lembata dan menjadi manusia yang sehat. 

Persoalan ini lagi-lagi menegaskan pemerintah kita belum serius memerhatikan dan memahami petani lokal di daerah. 

Mulai dari jagung hibrida, sampai pada menu MBG sudah sangat jelas membuktikan bahwa petani sebagai penopang bangsa selalu paling belakang diperhatikan. 

Contoh lebih luas lagi orang Papua yang kaya pohon Sagu justru menjadi dominan konsumsi beras dari luar daerah bahkan dari luar negeri (Ahmad Arif, 2019). 

Potensi lokal tak dimanfaatkan dan petani tak diberdayakan oleh Pemerintah. 

Hal ini persis ketika penjual jagung titi tidak diberdayakan tetapi justru diberikan jagung hibrida yang tidak bisa dijadikan jagung titi lantas memanipulasi petani melalui kegiatan lomba titi jagung dengan narasi besar untuk rasa cinta. 

Padahal bisa mungkin terjadi, ini hanyalah drama olok-olokan terhadap petani

Sangat berbahaya jika pemerintah dan partai politik rajin membagikan jagung hibrida tanpa memberikan edukasi.

Petani sebagai penyanggah nafas bangsa harus benar-benar menjadi subjek politik bukan lagi obyek sebagaimana digambarkan Harari yang penjabaran konkritnya bisa anda baca dalam sejarah Indonesia baik Nasional maupun lokal. 

Karakter elit lokal yang digambarkan Harari bisa saja bermetamorfosis dalam diri pejabat publik maupun orang-orang dekat yang sering makan “satu meja”–bukan dengan menjarah hasil bumi melainkan memanipulasi harapan politik petani

Kita butuh pemerintah yang berpikir lokal bertindak nasional. Ada ubi, jagung, kacang-kacang, kelapa, kemiri, kopi di desa; mau dibawa kemana dan melalui cara apa? 

Ini tugas pejabat untuk berpikir mencari jalan bukan malah terus memanipulasi harapan politik petani

Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved