Sabtu, 2 Mei 2026

Opini

Opini: Paradoks Musik Timur, Dari Tenda Pesta ke Gugatan Publik

Perjalanan panjang musik timur ke panggung nasional, bahkan internasional, bukanlah hal yang mudah. 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YOGEN SOGEN
Yogen Sogen 

Tuntutan ini menjadi interupsi yang menggugat etika berbangsa dan bernegara. 

Kita melihat berbagai narasi penuh emosi media sosial, selama aksi unjuk rasa hingga berujung amok pada periode Agustus 2025.

Peristiwa ini bukan hal sederhana, tetapi tanda kegelisahan rakyat telah mencapai titik didih. 

Ia adalah alarm pengingat untuk kembali menggaungkan isu-isu krusial seperti ketidakadilan, keserakahan, ketimpangan ekonomi dan redupnya reformasi politik. 

Aksi joget yang semula dipandang sepele, justru mempertebal kemarahan dan merampungkan wacana publik, tentang jarak antara penguasa dan rakyat.

Momen ini secara gamblang menegaskan bahwa musik dari timur yang awalnya ditakar sebagai hiburan, ternyata mampu menggetarkan nurani bangsa yang lama terlelap, ia memberi peringatan, bahwa kenikmatan dan kebahagiaan yang dipamerkan di pusat kekuasaan sering kali bertentangan dengan segala bentuk ketidakadilan yang diderita di daerah.

Ancaman Ketidakadilan

Musik timur semacam pedang bermata dua. Di satu sisi, ia adalah karya yang menakjubkan, meneguhkan persatuan, dan simbol kekayaan budaya bangsa yang tak ternilai. Ia menyalakan semangat dan kegembiraan kolektif. 

Namun, di sisi lain, ia adalah sebuah tragedi yang mengancam. Ia menukik ke segala ruang, menghujam status quo, memberi ancaman terhadap matinya nurani dan ketidakpedulian yang sudah terlalu lama mengakar.

Penyair dan filsuf Persia di abad ke-13, Jalaluddin Rumi pernah mengatakan, “musik yang haram itu adalah beradunya sendok dan garpu orang kaya di meja makan yang terdengar oleh tetangganya yang miskin”. 

Secara kontekstual, Rumi mengingatkan bahwa lagu-lagu tersebut memiliki akar historisnya, siapa saja tidak boleh hanya mendengar tanpa meresapi maknanya, bahwa lagu yang penuh kebahagiaan itu diciptakan di atas ruang-ruang ketidakadilan. 

Jika kegembiraan yang viral ini tidak diikuti dengan langkah-langkah konkret untuk membenahi ketimpangan dan ketidakadilan itu, maka jogetan itu hanya memperdalam luka, bukan obat penyembuh.

Sudah sepantasnya kita tidak hanya terlena oleh iramanya, tetapi juga tergerak oleh realitas bisu di baliknya. 

Musik timur menawarkan kita sebuah refleksi: semangat dan kebahagiaan bisa diwartakan di tengah absennya etika dan moral serta berbagai ketimpangan.  

Pertobatan Nasional

Sebagai bangsa, tugas kita, mempertegas semangat kolektif tersebut agar tidak sekadar menjadi pelarian, tetapi menjadi bagian dari kehidupan yang sejahtera dan adil untuk semua. 

Monsinyur  Suharyo menyerukan agar bangsa ini perlu mengambil langkah kokret dan melakukan “Pertobatan Nasional”. 

Dalam konteks ini, musik dari timur, dengan segala kegembiraan yang ditawarkannya, kini menjadi refleksi atas kerapuhan etika dan moral bangsa. 

Ia bukan lagi sekadar hiburan, namun sebuah ironi yang menghujam realitas di hadapan kita, ada kesenangan dan joget di pusat kekuasaan, sementara ketidakadilan terus meratap di tanah asalnya.

Dengan demikian, melalui  setiap hentakan penuh kegembiraan dan gerakan joget, kita disadarkan bahwa musik ini bisa menjadi seruan bagi pertobatan nasional.

Berbagai peristiwa yang dihadapi hari ini, memberi ruang untuk kita mengakhiri pesta pora di atas ketimpangan. 

Ini adalah seruan agar kita tidak hanya menikmati melodi, tetapi juga menyelami protes di baliknya. 

Jadikanlah irama ini sebagai pengingat, bahwa untuk menjadi bangsa yang lebih baik, kita harus terlebih dahulu bertobat dari matinya nurani dan ketidakpedulian terhadap segenap rakyat Indonesia yang terpinggirkan. 

Seperti ditegaskan oleh  Beethoven, “musik adalah wahyu yang lebih tinggi daripada segala kebijaksanaan dan filsafat. Musik adalah tanah elektrik tempat roh hidup, berpikir, dan berkreasi.” (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved