Opini
Opini: Dari Homo Sapiens ke Homo Hedonis
Media sosial mempercepat penyebarannya, membuatnya viral, dan menjadikannya konsumsi sehari-hari.
Di satu sisi, teknologi dan rasionalitas menjanjikan manusia menuju Homo Deus: makhluk yang unggul secara intelektual dan berperadaban tinggi.
Namun di sisi lain, obsesi pada kenikmatan menjerumuskan manusia dalam jebakan hasrat sesaat.
Relasi menjadi rapuh, kepercayaan runtuh, dan komitmen kehilangan makna.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah manusia sedang bergerak menuju Homo Deus yang bijak, atau berhenti pada Homo Hedonis yang rapuh?
Jika gagal menyeimbangkan rasio, etika, dan hasrat, modernitas hanya akan melahirkan generasi yang canggih secara teknologi tetapi miskin integritas moral.
Homo Sapiens dan Evolusi Hasrat
Sejak awal sejarah, Homo Sapiens digerakkan oleh dua insting dasar: bertahan hidup dan bereproduksi.
Hasrat pada mulanya bersifat biologis, tetapi kemudian dibentuk oleh budaya dan norma sosial.
Perkawinan, keluarga, dan adat lahir sebagai mekanisme untuk mengendalikan insting.
Seksualitas, misalnya, tidak hanya soal reproduksi, tetapi juga terkait kehormatan, status, dan legitimasi budaya.
Evolusi inilah yang membedakan manusia dari spesies lain: hasrat tidak hanya dipraktikkan, melainkan juga dimaknai.
Modernitas mengubah tatanan itu. Industrialisasi, urbanisasi, dan globalisasi membuka ruang baru bagi ekspresi hasrat.
Di tengah gaya hidup individualistis, hasrat tidak lagi dikekang komunitas.
Harari dalam Homo Deus mencatat bahwa manusia modern tidak puas hanya bertahan hidup.
Mereka mengejar kebahagiaan, bahkan keabadian. Hasrat menjadi motor: dari keinginan akan kekayaan, kekuasaan, hingga daya tarik seksual.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Goldy-Ogur.jpg)