Opini

Opini - Causa Etika: Putusan PTDH Kompol Cosmas

Cosmas dan Affan ada di tengah-tengah keadaan ini. Mereka berdua mewakili dua sisi yang saling bertentangan. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI PETORNIUS DAMAT
Petornius Damat 

Oleh: Petornius Damat
Dosen Fakultas Hukum  Universitas Nusa Cendana Kupang, Nusa Tenggara Timur

POS-KUPANG.COM - Putusan Pemberhentian Tidak Dengan Hormat, PTDH kepada Kompol Cosmas Kaju Gae oleh majelis KKEP Polri telah menimbulkan kontroversi. 

Kontroversi itu timbul karena ada rasa dan kehendak yang hilang (tidak pas) dengan realita yang dialami langsung Cosmas. 

Betapa tidak putusan PTDH ini tidak menyisakan satupun kehormatan bagi Cosmas, isterinya, anak-anaknya dan keluarga besarnya yang telah menyerahkan dirinya untuk negara dan Polri. 

Ketika di bumi Indonesia Cosmas sudah kehilangan harapan keadilan, hanya dengan menengadah ke langitlah ia sandarkan harapan terakhir. 

Baca juga: Opini: Media Sosial dan PTDH Kompol Cosmas Kaju Gae

Hanya dengan menengadah ke langit seperti sebuah doa “…jadilah kehendakMu di bumi seperti di dalam Surga” inilah rasa tanpa kata-kata yang dibalut dan dibungkus dengan doa.  

Nila satu titik rusak susu sebelanga! Perumpaan ini menggambarkan realitas demo di jalanan Kota Jakarta. Pada mulanya, nila itu ditumpahkan di dalam ruang gedung DPR RI. 

Ini adalah causa awal yang memberikan efek domino. Nila itu kemudian menyebar merusaki, merasuki jiwa-jiwa rakyat (kaum muda) yang sekian lama telah dibelenggu atau terbelenggu oleh ketidakbecusan pengurus negara dan pengurus pemerintah. 

Cosmas dan Affan kemudian ditarik ke dalam suatu situasi alam (fenomena) jalanan kota Jakarta yang liar dan buas.  Mereka berdua ditarik masuk ke dalam alam yang tidak jelas. 

Apakah alam saat peristiwa itu terjadi sungguh alam yang murni atau alam buatan hasil rekayasa dan dimodifikasi oleh kebuasan, keliaran dan ketidaktaatan dari instinct kebinatangan yang terlepas dari taring-taring hukum yang tidak lagi tajam.

Dalam ukuran kenormalan kota Jakarta sebenarnya keliaran dan kebuasan sudah hal biasa. 

Belas kasih merupakan sesuatu yang berharga nilainya dan tidak mudah ditemukan. 

Apalagi ketika kebuasan dan keliaran kota Jakarta dibuat dan direkayasa sehingga menjadi lebih buas dan liar. 

Cosmas dan Affan ada di tengah-tengah keadaan ini. Mereka berdua mewakili dua sisi yang saling bertentangan. 

Cosmas mewakili institusi Polri yang bobrok, jelek di mata masyarakat. Affan mewakili rakyat yang bosan, marah, menderita. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved