Opini

Opini: Pengabdian yang Membumi

Pengabdian sejati harus membumi artinya hadir dalam kehidupan nyata, menyentuh luka sosial, dan menggerakkan perubahan konkret. 

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ALBERTUS MUDA
Albertus Muda 

Oleh: Albertus Muda
Guru di SMAS Keberbakatan Olahraga San Bernardino Lembata, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Pengabdian sering kali dipahami sebagai tindakan mulia yang bersifat ideal dan luhur.

Namun, dalam realitas sosial yang sarat ketimpangan, krisis moral, dan fragmentasi kemanusiaan, pengabdian tidak cukup berhenti pada niat baik atau simbol-simbol spiritual semata. 

Pengabdian sejati harus membumi artinya hadir dalam kehidupan nyata, menyentuh luka sosial, dan menggerakkan perubahan konkret. 

Dalam konteks kepemimpinan, pengabdian menjadi poros yang mempersatukan dimensi spiritual dan sosial, antara pencarian Tuhan dan keterlibatan aktif dalam kehidupan masyarakat.

Memaknai Pengabdian

Pengabdian bukan sekadar aktivitas pelayanan, melainkan sikap hidup yang berakar pada kesadaran akan martabat manusia dan tanggung jawab sosial. 

Baca juga: PWI NTT Siap Gelar Rangkaian Peringatan HPN 2026

Dalam tradisi etika sosial, pengabdian dipahami sebagai tindakan keluar dari diri demi kebaikan bersama (bonum commune). 

Ia menuntut kerelaan berkorban, keberanian menghadapi kenyataan, serta kesetiaan pada nilai kemanusiaan.

Menurut Franz Magnis-Suseno, pengabdian sosial lahir dari kesadaran moral bahwa manusia tidak hidup untuk dirinya sendiri, melainkan selalu berada dalam jejaring relasi dengan sesama (Magnis-Suseno, 2018). 

Oleh karena itu, pengabdian yang membumi tidak bersifat elitis atau karitatif belaka, tetapi transformati berarti berupaya mengubah struktur yang menindas dan menumbuhkan keadilan.

Dalam konteks kepemimpinan, pengabdian menjadi fondasi etis yang membedakan pemimpin sebagai pelayan (servant leader), bukan penguasa. 

Pemimpin yang mengabdi tidak mengejar legitimasi melalui kekuasaan, melainkan melalui keberpihakan pada yang lemah.

Spiritualitas Pemimpin

Spiritualitas pemimpin berangkat dari pencarian Tuhan yang jujur dan mendalam sesuai agama yang dianut sang pemimpin. 

Mencari Tuhan bukan sekadar praktik ritual, tetapi proses pembentukan batin yang melahirkan kepekaan nurani. 

Spiritualitas memberi pemimpin arah, makna, dan daya tahan dalam menghadapi godaan kekuasaan.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved