Opini

Opini: Broken Strings -Genealogi Perempuan yang Dilupakan

Perempuan bertubuh, namun tidak sepenuhnya memiliki kepemilikan atasnya; mereka memiliki kehendak yang hanya dapat diekspresikan

|
Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI AGUSTINUS SASMITA
Agustinus S. Sasmita 

Oleh: Agustinus S. Sasmita
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - “...Cinta tidak membutuhkan dokumen untuk menjadi nyata. Cinta tidak butuh tanda tangan atau izin dari siapa pun. Ketika cinta itu benar, ia akan terlihat dari cara seseorang memperlakukanmu, bukan dari cap atau kertas yang menyatakanmu miliknya”. 

Demikian salah satu kutipan yang tercatat dalam novel Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah karya Aurelie Moeremans, yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan. 

Ada beberapa hal yang dapat disoroti dalam buku tersebut, di antaranya: masalah superioritas maskulin, disorientasi otoritas, dan tutorial untuk menjadi berani.

Baca juga: Opini: Pengabdian yang Membumi

Pertama, superioritas maskulin. Dalam catatan sejarah, tidak jarang kita temukan peristiwa yang menunjukan persoalan seputar gender. 

Perbedaan antara laki-laki dan perempuan tidak hanya dilihat dari sudut pandang biologis maupun psikologis, melainkan sebuah disparitas kelas yang problematis. 

Perempuan dinilai sebagai manusia kelas dua, sedangkan laki-laki menempati kelas pertama. 

Revolusi paradigma berpikir ini begitu mengakar sehingga mempengaruhi cara laki-laki memandang perempuan dan bagaimana perempuan melihat diri mereka sendiri. 

Perempuan bertubuh, namun tidak sepenuhnya memiliki kepemilikan atasnya; mereka memiliki kehendak yang hanya dapat diekspresikan sejauh itu dikehendaki.

Kedua, disorientasi otoritas. Dampak yang tampak lebih jauh dari dominasi kaum lelaki adalah intervensi terhadap otoritas dari berbagai lembaga atau institusi. 

Hampir semua lembaga, bahkan lembaga perlindungan perempuan sekalipun, berdimensi maskulin. 

Kata “perlindungan perempuan”, misalnya, cukup menjadi indikator yang mempertegas perempuan sebagai mahklum yang lemah jika dibandingkan dengan laki-laki. 

Hal yang lebih ironisnya lagi, setiap kali perempuan angkat suara, mereka cenderung dilihat sebagai pihak yang gegabah, lancang, dan tak jarang mereka balik disalahkan atau bahkan diabaikan. 

Maskulinitas sebuah lembaga memungkinkan pilihan untuk menjaga nama baik daripada mendengarkan suara rintihan perempuan yang tertindas.

Ketiga, tutorial untuk menjadi berani. Salah satu hal yang menarik perhatian ketika membaca buku Broken Strings adalah keberanian dan keterbukaan penulis dalam mengungkapkan pengalaman pribadinya. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved