Opini
Opini: Berladang Lahan Marginal
Berladang adalah strategi adaptasi rasional terhadap keterbatasan ekologis. Pola intensifikasi seragam tidak berlaku di sini.
Oleh: Yoseph Yoneta Motong Wuwur
Warga Lembata, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Berladang adalah praktik petani lahan kering. Lahan kering marginal sering dianggap terbatas: curah hujan rendah, musim tanam singkat, dan tanah miskin hara.
Bagi petani, lahan marginal lebih dari sekadar masalah. Lahan kering marginal adalah ruang hidup dan produksi pangan yang tak tergantikan, terutama di wilayah beriklim kering.
Berladang adalah strategi adaptasi rasional terhadap keterbatasan ekologis. Pola intensifikasi seragam tidak berlaku di sini.
Petani menyesuaikan tanaman, waktu tanam, dan teknik pengelolaan lahan dengan kondisi lokal. Berladang lahir dari pengalaman dan kearifan lokal untuk ketahanan pangan.
Baca juga: Opini: Pengabdian yang Membumi
Lebih dari sekadar kegiatan ekonomi, berladang adalah sistem adaptasi sosial-ekologis. Ia menggabungkan pengelolaan risiko, pemanfaatan sumber daya lokal, dan solidaritas komunitas.
Nilainya tidak bisa diukur hanya dari produktivitas. Memahami berladang menghargai pengetahuan lokal dan mendukung keberlanjutan.
Lahan Marginal
Lahan kering disebut marginal karena terbatas secara biofisik. Tanah miskin hara, daya simpan air rendah, dan rentan erosi. Dalam kerangka pertanian intensif, kondisi ini dipandang tidak ideal.
Lahan kering dinilai dari kekurangan, bukan kegunaannya. Bagi petani, lahan marginal adalah pusat produksi pangan dan kehidupan, tempat berkembangnya pengetahuan, strategi bertahan, dan relasi sosial-ekonomi.
Label marginal sering mencerminkan ketidaksesuaian lahan dengan model pembangunan dominan. Model bertumpu pada intensifikasi, homogenitas, dan input tinggi.
Ketika dijadikan ukuran tunggal, lahan marginal tersingkir dari prioritas kebijakan. Ia diposisikan sebagai wilayah bermasalah, bukan sebagai sistem adaptif yang unik.
Masalah muncul ketika pendekatan seragam dipaksakan. Input pertanian modern yang dirancang untuk lahan subur jarang cocok diterapkan.
Alih-alih meningkatkan kesejahteraan, risiko gagal panen membesar, degradasi tanah meningkat.
Memahami lahan marginal sebagai ruang hidup, bukan sekadar objek produksi, menjadi langkah awal menuju pembangunan pertanian yang lebih adil dan kontekstual.
Iklim Kering
Iklim kering ditandai oleh curah hujan rendah dan tidak menentu. Musim hujan singkat, sering terlambat, dan distribusinya tidak merata.
Yoseph Yoneta Motong Wuwur
lahan marginal
lahan kering marginal
mengelola lahan kering
Sistem Pertanian Lahan Kering
Provinsi Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Timur
| Opini: Broken Strings -Genealogi Perempuan yang Dilupakan |
|
|---|
| Opini: Pengabdian yang Membumi |
|
|---|
| Opini: Sektor Desa Juara Korupsi, Prestasi yang Memalukan Bangsa |
|
|---|
| Opini: Seni Melepaskan Jabatan- Refleksi Atas Sikap Mgr. Paskalis Bruno Syukur |
|
|---|
| Opini: Membaca Problematika Stunting dan Kemiskinan di NTT dari Kacamata John Rawls |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yoseph-Yoneta-Motong-Wuwur.jpg)