Opini
Opini: Belajar dari Anomali Cuaca dan Iklim di Nusa Tenggara Timur
Seperti memompa uap air lebih banyak ke wilayah Indonesia, termasuk sebagian NTT sehingga awan hujan bisa terbentuk di tempat yang seharusnya kering.
Oleh: Hamdan Nurdin
Climate Forecast - Stasiun Klimatologi NTT
POS-KUPANG.COM - Pernahkah Anda bertanya-tanya, bagaimana mungkin di tengah teriknya musim kemarau yang sudah berlangsung berbulan-bulan, tiba-tiba langit berubah gelap dan hujan deras mengguyur?
Di Nusa Tenggara Timur (NTT), fenomena inilah yang sedang terjadi.
Sebagian wilayah masih berjuang melawan kekeringan yang sudah mencapai 94 hari, membuat warga kesulitan mendapatkan air bersih.
Namun, di saat yang sama, beberapa daerah justru diguyur hujan lebat yang memicu banjir bandang, seperti yang dilaporkan terjadi di Mauponggo, Kabupaten Nagekeo.
Kondisi yang bertolak belakang ini bukanlah kebetulan. Ini adalah potret nyata dari anomali iklim yang harus kita pahami.
Baca juga: Opini: Merdeka Kedaulatan Pangan, Antara Kedaulatan dan Iklim
Artikel ini hadir bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mengajak kita semua menjadi lebih peka dan waspada terhadap " kejutan" alam yang semakin tidak terduga.
Ada Apa di Balik Layar?
Untuk memahami fenomena ini, kita perlu melihat apa yang terjadi di ‘dapur’ iklim global.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa ada dua fenomena besar yang berperan: Indian Ocean Dipole (IOD) dan El Niño-Southern Oscillation (ENSO).
Sederhananya, pada Dasarian I September 2025 (tanggal 11-20) ini, kedua fenomena itu sedang berada di fase negatif.
Bayangkan, kondisi ini seperti “memompa” uap air lebih banyak ke wilayah Indonesia, termasuk sebagian NTT sehingga awan hujan bisa terbentuk di tempat yang seharusnya kering.
Data BMKG menunjukkan betapa mencoloknya anomali ini: dari 100 wilayah di Indonesia, sekitar 70 di antaranya justru mengalami hujan di atas normal pada awal September 2025.
Secara lebih rinci, analisis curah hujan Stasiun Klimatologi NTT untuk Dasarian I September 2025 menunjukkan bahwa secara umum wilayah NTT mengalami curah hujan dengan kategori Rendah (0-50 mm/dasarian).
Namun, beberapa wilayah kecil, seperti sebagian kecil Kabupaten Manggarai, Kabupaten Ngada, Kabupaten Nagekeo, dan Kabupaten Ende, tercatat mengalami curah hujan dengan kategori Tinggi (151-300 mm/dasarian).
Selain itu, meskipun hujan sempat turun, beberapa wilayah di NTT masih
mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) yang sangat panjang, bahkan ekstrem (>60 hari), termasuk di Kabupaten Ende (sekitar Ranokolo), Kabupaten Sikka (sekitar Magepanda), Kabupaten Lembata (sekitar Wairiang), Kota Kupang (sekitar Fatubena), Kabupaten Timor Tengah Utara (sekitar Lurasik);
Kabupaten Kupang (sekitar Lelogama), Kabupaten Sabu Raijua (sekitar Stasiun Meteorologi Tardamu), dan Kabupaten Sumba Timur (sekitar Stasiun Meteorologi Waingapu, Kawangu, Kanatang, Lambanapu, Rambangaru dan Kamanggih).
Prediksi Selanjutnya: Hujan dan Angin Kencang!
Lalu, bagaimana dengan 10 hari ke depan? Stasiun Klimatologi NTT memperingatkan kita untuk tetap siaga.
Periode Dasarian II September (11–20 September) adalah masa transisi yang dinamis.
Umumnya, wilayah NTT diprediksi akan mengalami curah hujan
kategori Rendah (0–20 mm/dasarian) dengan peluang terjadinya sebesar 71-100 persen.
Namun, curah hujan kategori Menengah (51-100 mm/das) diprediksi akan terjadi di sebagian besar Kabupaten Manggarai Barat, sebagian besar Kabupaten Manggarai, dan sebagian kecil Kabupaten Manggarai Timur, dengan peluang sebesar 41-80 persen.
Selain itu, BMKG-Stasiun Meteorologi El Tari juga mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk sejumlah wilayah.
Pada 11 September, potensi hujan disertai petir dan angin kencang diprediksi terjadi di Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, dan Ngada, sementara angin kencang berpotensi terjadi di Sabu Raijua.
Pada 12 September 2025, angin kencang diprediksi terjadi di Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Rote Ndao, dan Sabu Raijua.
Sehari setelahnya, pada 13 September, hujan disertai petir dan angin kencang diprediksi kembali terjadi di Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, dan Nagekeo.
Peringatan ini bukan sekadar ramalan biasa. Ini adalah hasil dari analisis mendalam yang melibatkan puluhan variabel dan model statistik canggih, yang harus kita tanggapi dengan serius.
Waspada Dua Potensi Ancaman Sekaligus
Anomali cuaca ini menimbulkan dua ancaman yang saling berkaitan. Ancaman pertama adalah dampak kekeringan.
Petani di NTT telah melaporkan 689 hektare sawah padi rusak akibat kekurangan air.
Kekeringan juga membawa risiko, seperti penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Kupang akibat udara yang kering dan
panas.
Ancaman kedua adalah dampak dari hujan yang tiba-tiba. Tanah yang sudah lama kering menjadi keras dan sulit menyerap air.
Akibatnya, air hujan yang turun langsung mengalir di permukaan, memicu banjir bandang dan tanah longsor.
Kondisi ini membuat masyarakat yang sudah kekurangan air bersih akibat kemarau, kini juga harus menghadapi masalah kelebihan air akibat banjir.
Mari Bergerak Bersama
Menghadapi tantangan ini, ada beberapa langkah sederhana yang bisa kita lakukan.
• Jadilah ‘detektif’ cuaca pribadi: Jangan hanya menunggu kabar, tapi proaktif mencari informasi. Unduh aplikasi Info BMKG atau ikuti akun media sosial mereka.
Dengan begitu, kita bisa mendapatkan peringatan dini secara langsung.
• Hemat air: Ingat, meskipun ada hujan, kekeringan masih mengintai. Gunakan air seperlunya dan jangan boros.
• Waspadai kebakaran: Cuaca terik yang silih berganti dengan hujan lebat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Jangan sembarangan membakar sampah, apalagi di dekat area kering.
Anomali cuaca di NTT ini adalah cerminan dari pola iklim global yang semakin tidak menentu. Ini bukan hanya tugas pemerintah atau BMKG. Ini adalah urusan kita bersama.
Dengan memahami dan bersiap, kita bisa mengubah ancaman menjadi kewaspadaan, dan bersama-sama menjaga alam kita. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
Hamdan Nurdin
anomali iklim
musim kemarau
Opini Pos Kupang
Banjir Bandang Mauponggo
POS-KUPANG.COM
Nusa Tenggara Timur
| Opini: Dilema Kesejahteraan- Efisiensi atau Erosi Biokrasi? |
|
|---|
| Opini: Sunyi yang Tidak Didengar-Ketika Bunuh Diri Menjadi Bahasa Terakhir |
|
|---|
| Opini: Lonjakan HIV/AIDS di Nusa Tenggara Timur |
|
|---|
| Opini: Ilusi “Profesor Menjamur” dan Krisis Nalar Kebijakan Pendidikan Tinggi |
|
|---|
| Opini: Kerahiman Ilahi- Jalan Pulang Menuji Hati yang Diperbaharui |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ilustrasi-hujan_20160820_115132.jpg)