Opini
Opini: Mohon Tenang Sedang Pemilihan Rektor Undana
Bahkan, civitas akademika tidak mengetahui derap langkah program kandidat rektor untuk memajukan Undana.
Dalam teori demokrasi deliberatif, Jurgen Habermas pernah mewanti, ketiadaan forum debat publik berarti pula meniadakan proses komunikasi rasional yang mestinya melibatkan partisipasi luas dan argumentasi kritis.
Kealpaan debat kandidat dapat diandaikan juga sebagai “kesenyapan anarkis.”
Terminilogi menganandaikan bahwa senyap ruang remang akademik bukanlah bentuk netralitas, melainkan penghilangan ruang kritis yang justru melemahkan adab ilmiah.
Publik kampus tidak memperoleh kesempatan untuk menilai isi kepala para kandidat dan sivitas akademika (dosen, pegawai) tidak diberikan kesempatan untuk menguji gagasan para calon rektor.
Keterlibatan senat yang terbatas diperparah lagi oleh Permenristek Dikti Nomor 21 Tahun 2018, Pasal 9 ayat (3) huruf a berbunyi “Menteri memiliki 35 persen (tiga puluh lima persen) hak suara dari total pemilih yang hadir; dan huruf b “Senat memiliki 65 persen (enam puluh lima persen) hak suara dan masing-masing anggota Senat memiliki hak suara yang sama”.
Permenristek ini menjadi tali kendali; pada satu ujung tali itu, menteri dapat mengendalikan rektor, terutama untuk urusan terrentu.
Pada ujung lain tali kendali itu, justru mengamputasi proses demokratisasi di dunia kampus. Undana berada pada simpang paradoksal.
Ia unggul di atas kertas melalui akreditasi, tetapi bangkrut dalam praktik demokrasi internal.
Jika universitas ingin tetap menjadi rujukan moral dan intelektual bagi masyarakat, mekanisme pemilihan rektor mesti terbuka, partisipatif, dan deliberatif.
Debat kandidat bukan sekadar formalitas, melainkan piranti demokrasi akademik yang melahirkan pemimpin dengan legitimasi intelektual dan moral.
Sekali lagi, mohon tenang! Sedang pemilihan rektor Universitas Nusa Cendana. Entalah.
Namun, di bawah rimbunan kebanggaan mendapatkan akreditasi unggul, Undana justeru meredupkan cahaya intelektualitasnya.
Cuma terdengar alunan saxofon yang ditiupkan para kandidat rektor sambil menjemur ambisinya di bukit Penfui. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
| Opini: Transformasi Bank NTT menjadi Perseroda |
|
|---|
| Opini: Jangan Anggap Remeh RKPD- Di Sini Nasib Rakyat dan Anggaran Ditentukan |
|
|---|
| Opini: Dilema Kesejahteraan- Efisiensi atau Erosi Birokrasi? |
|
|---|
| Opini: Sunyi yang Tidak Didengar-Ketika Bunuh Diri Menjadi Bahasa Terakhir |
|
|---|
| Opini: Lonjakan HIV/AIDS di Nusa Tenggara Timur |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Marsel-Robot3.jpg)