Opini
Opini: Mohon Tenang Sedang Pemilihan Rektor Undana
Bahkan, civitas akademika tidak mengetahui derap langkah program kandidat rektor untuk memajukan Undana.
Pada level itu, alih-alih menjadi wahana pertarungan gagasan, pemilihan rektor berubah menjadi mekanisme normatif yang steril dari wacana kritis, sehingga mengabaikan peran kampus sebagai pemangku otoritas moral dan intelektual.
Padahal, di luar tembok kampus, pemilihan preisden hingga pemilihan bupati begitu gempita menyampaikan gagasan dan pendapatnya. Masyarakat pun mendapatkan dua keuntungan dari perdebatan itu.
Pertama, mendapatkan sejumlah pengetahuan, informasi, dan gagasan alternatif yang disampaikan sang kandidat.
Kedua, masyarakat mengetahui siapa sih kandidat ini? Meski yang cerdas dalam berdebat tidak selalu memang dalam pemilihan.
Pada pihak lain, universitas sering ditatap sebagai seberkas cahaya intelektual dan laboratorium demokrasi.
Sebagai lembaga ilmiah, kampus dihuni oleh jemaat akademik yang pandangannya kerap menjadi rujukan dalam wacana publik.
Namun, realitas di Undana menunjukkan keadaan yang paradoks: dalam momen penting, pemilihan rektor, Undana mengabaikan tradisi debat terbuka yang justeru menjadi tradisi akademik dan tipikal adab ilmiah.
Fenomena ini menunjukkan kebangkrutan adab ilmiah. Padahal, debat terbuka kandidat rektor adalah usaha penciptaan ruang rangsang untuk menyepu ide dan saling memvalidasi gagasan dalam rangka mendorong Undana ke arah yang lebih baik, dan lebih inklusi.
Artinya, mekanisme pemilihan rektor tidak sekadar melankolia paparan visi dan misi di depan senat yang mirip pemilihan Ketua Osis, tetapi juga mewariskan adab ilmiah melalui debat terbuka.
Debat akademik dalam pemilihan rektor memiliki setidaknya dua fungsi strategis.
Pertama, ia memberi ruang bagi sivitas akademika untuk memahami visi, misi, serta argumentasi kandidat secara komprehensif.
Debat terbuka ini memungkinkan publik kampus dan masyarakat di luar pagar kampus dapat menilai kualitas kepemimpinan yang digotong.
Kedua, debat terbuka kandidat rektor dapat menjadi model bagi praktik demokrasi lebih luas.
Universitas sebagai miniatur negara memberikan teladan perdebatan sehat, bertabiat ilmiah yang kelak menjadi rujukan bagi praktik domokrai deliberatif di luar sana seperti pemilihan presiden, gubernur, hingga bupati.
Dalam konteks ini, Undana justru memperlihatkan praktik politik yang pongah, tertutup, dan iklim demokrasi mengalami defisit atau tekor secara akademik.
| Opini: Transformasi Bank NTT menjadi Perseroda |
|
|---|
| Opini: Jangan Anggap Remeh RKPD- Di Sini Nasib Rakyat dan Anggaran Ditentukan |
|
|---|
| Opini: Dilema Kesejahteraan- Efisiensi atau Erosi Birokrasi? |
|
|---|
| Opini: Sunyi yang Tidak Didengar-Ketika Bunuh Diri Menjadi Bahasa Terakhir |
|
|---|
| Opini: Lonjakan HIV/AIDS di Nusa Tenggara Timur |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Marsel-Robot3.jpg)