Opini
Opini: Kesalehan Literasi Digital, Jalan Membangun Peradaban
Tetapi dalam konteks literasi digital, kesalehan lebih tepat dipahami sebagai kebiasaan etis yang menuntun perilaku digital kita.
2. Ketimpangan akses menciptakan ketidakadilan. Meski angka penetrasi sudah menembus 80 persen, sebagian wilayah Indonesia Timur masih tertinggal jauh. Jika tidak ada upaya serius, kesenjangan ini akan memperdalam ketidakadilan sosial.
3. Ruang publik digital membentuk demokrasi. Media sosial kini menjadi arena utama perdebatan politik, diskusi publik, bahkan pembentukan opini masyarakat. Tanpa kesalehan, ruang digital berubah menjadi arena konflik, polarisasi, dan perpecahan.
4. Informasi memiliki dimensi moral. Filsuf informasi Luciano Floridi menegaskan bahwa setiap informasi dan cara kita mengolahnya mengandung implikasi etis.
Artinya, literasi digital yang sejati tidak hanya soal kemampuan kognitif, tetapi juga komitmen moral.
Dengan kata lain, kesalehan literasi digital bukanlah pelengkap, melainkan fondasi utama yang menentukan kualitas peradaban digital kita.
Tanpa kesalehan, derasnya arus informasi justru dapat berubah menjadi gelombang yang meruntuhkan tatanan sosial melalui penyalahgunaan data, manipulasi opini, dan degradasi etika publik.
Sebaliknya, dengan kesalehan, literasi digital menjadi daya yang mengarahkan teknologi pada kemaslahatan, meneguhkan keadaban, dan menjaga agar kemajuan tidak kehilangan ruh kemanusiaannya.
Pilar-Pilar Kesalehan Literasi Digital
Untuk menjadikan kesalehan digital nyata dalam kehidupan sehari-hari, ada beberapa pilar yang bisa menjadi panduan.
Pertama, kritis terhadap informasi. Mampu membedakan fakta dan opini, memverifikasi sumber, serta memahami bias algoritma yang mengatur aliran konten di media sosial.
Tanpa sikap kritis, kita mudah terjebak dalam perangkap hoaks atau ruang gema (echo chamber).
Kedua, etika informasi. Menghormati hak cipta, menjaga privasi, tidak menyebarkan data pribadi orang lain, dan memastikan bahwa apa yang kita bagikan tidak merugikan pihak lain.
Ketiga, empati digital. Menyadari bahwa di balik layar ada manusia nyata dengan perasaan dan martabat.
Komentar yang kasar, ujaran kebencian, atau penghinaan di dunia maya sama menyakitkannya dengan di dunia nyata.
Keempat, inklusivitas. Memastikan literasi digital tidak hanya milik kelompok terdidik di kota besar, tetapi juga menjangkau masyarakat di daerah, kelompok rentan, dan generasi tua.
Peradaban digital sejati hanya lahir jika semua orang terlibat.
Heryon Bernard Mbuik
kesalehan digital
Opini Pos Kupang
POS-KUPANG.COM
digitalisasi
Peradaban
literasi digital
Meaningful
| Opini: Ketika Hujan Tak Datang, Siapa yang Kita Jaga? |
|
|---|
| Opini: Laporan Keuangan Daerah-Antara Kewajiban Regulasi dan Tanggung Jawab Publik |
|
|---|
| Opini: Diagnosa Dini- Jembatan Memperpanjang Hidup |
|
|---|
| Opini: Flores Timur di Persimpangan ETMC 2026 |
|
|---|
| Opini: Problem Kerusakan Infrastruktur Jalan di Kampung Leong Manggarai Timur |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Heryon-Bernard-Mbuik.jpg)