Selasa, 14 April 2026

Opini

Opini: Kesalehan Literasi Digital, Jalan Membangun Peradaban

Tetapi dalam konteks literasi digital, kesalehan lebih tepat dipahami sebagai kebiasaan etis yang menuntun perilaku digital kita. 

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI HERYON B MBUIK
Heryon Bernard Mbuik 

Oleh: Heryon Bernard Mbuik
Dosen PGSD FKIP Universitas Citra Bangsa Kupang - Nusa Tenggara Timur

POS-KUPANG.COM - Di era serba cepat dan serba digital, kehidupan manusia kian terikat pada gawai, aplikasi, dan media sosial. 

Hampir setiap detik, dari membuka mata di pagi hari hingga menutupnya kembali di malam hari, layar menjadi jendela utama menuju dunia. 

Kini, batas antara realitas nyata dan realitas maya kian kabur, hanya dipisahkan oleh sentuhan ujung jari pada layar yang selalu setia di genggaman.

Kondisi ini menghadirkan tantangan baru yang lebih kompleks. Literasi digital tidak lagi cukup dimaknai sebagai sekadar kemampuan teknis menggunakan perangkat atau mengakses informasi. 

Lebih dari itu, ia menyangkut tanggung jawab atas jejak digital yang ditinggalkan, cara seseorang memproduksi dan menyebarkan informasi, serta dampaknya terhadap kehidupan sosial dan moral masyarakat.

Baca juga: Opini: 150 Tahun Serikat Sabda Allah, Api Misi yang Tetap Menyala di Era Digital

Dalam kerangka itu, tulisan ini dimaksudkan sebagai sumbangsih reflektif  memperingati Hari Aksara Internasional (HAI) pada 8 September 2025, dengan mengusung gagasan tentang “ kesalehan literasi digital”.

Ini adalah sikap dan praktik moral dalam menggunakan teknologi, yang bukan hanya cakap secara teknis, tetapi juga beretika, berwawasan, dan berperadaban.

Lonjakan Pengguna Internet: Peluang sekaligus Risiko

Data terbaru menunjukkan betapa besarnya dunia digital Indonesia. Laporan DataReportal mencatat bahwa pada Januari 2025 terdapat sekitar 212 juta pengguna internet dengan penetrasi 74,6 persen dari populasi. 

Hanya dalam enam bulan, survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan bahwa jumlah ini melonjak menjadi 229,4 juta jiwa dengan tingkat penetrasi 80,66 persen dari total populasi 284 juta. 

Artinya, delapan dari sepuluh orang Indonesia kini sudah terhubung ke internet.

Dominasi terbesar datang dari Generasi Z (25,54 persen), diikuti Milenial (25,17 persen) dan Generasi Alpha (23,19 persen). 

Secara geografis, penetrasi di wilayah urban sudah mencapai 83,56 persen, sementara di rural 76,96 persen. 

Kesenjangan mulai menyempit, meski beberapa daerah masih tertinggal; di Maluku dan Papua, misalnya, penetrasi baru sekitar 69,26 persen.

Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved