Selasa, 14 April 2026

Opini

Opini: Kesalehan Literasi Digital, Jalan Membangun Peradaban

Tetapi dalam konteks literasi digital, kesalehan lebih tepat dipahami sebagai kebiasaan etis yang menuntun perilaku digital kita. 

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI HERYON B MBUIK
Heryon Bernard Mbuik 

Namun, bersamaan dengan pertumbuhan itu, ancaman juga meningkat. Survei APJII melaporkan 24,89 persen pengguna pernah mengalami pencurian data pribadi, sementara 22,12 persen mengaku perangkatnya terserang virus. 

Generasi muda semakin akrab dengan konten berbasis kecerdasan buatan, sementara lebih dari separuh penyedia layanan internet di Indonesia sudah mengadopsi AI dalam layanan mereka. 

Data-data ini menunjukkan paradoks: di satu sisi ada peluang besar untuk mendorong inovasi, pendidikan, dan ekonomi digital; di sisi lain, ada risiko serius yang bisa menggerus kepercayaan publik dan memperlebar jurang ketidakadilan. Inilah titik di mana kesalehan literasi digital menjadi kebutuhan mendesak.

Literasi Digital: Dari Kecakapan Teknis ke Kesadaran Etis

Pada awalnya, istilah literasi digital hanya dipahami sebagai kemampuan teknis menggunakan komputer, mengakses internet, dan memanfaatkan perangkat lunak. 

Paul Gilster, salah satu tokoh yang mempopulerkan konsep ini pada akhir 1990-an, menyebut literasi digital sebagai kemampuan memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai format digital.

Namun, pemahaman itu kini berkembang. Yoram Eshet-Alkalai, misalnya, menguraikan literasi digital sebagai gabungan keterampilan kognitif, emosional, dan sosial yang diperlukan untuk hidup di era digital. 

UNESCO bahkan telah merumuskan Media and Information Literacy (MIL), yaitu kerangka keterampilan untuk mengakses, mengevaluasi, mencipta, dan berpartisipasi secara kritis dalam ekosistem digital. 

Artinya, literasi digital tidak berhenti pada “melek teknologi”, melainkan juga menuntut kesadaran kritis, kemampuan memilah informasi, dan tanggung jawab moral atas konten yang kita produksi dan konsumsi.

Mengapa Perlu Kesalehan?

Kata kesalehan biasanya diasosiasikan dengan agama atau ibadah. Tetapi dalam konteks literasi digital, kesalehan lebih tepat dipahami sebagai kebiasaan etis yang menuntun perilaku digital kita. 

Kesalehan berarti tidak semata menguasai teknologi, melainkan menggunakan kecakapan itu dengan penuh tanggung jawab, kejujuran intelektual, dan kepedulian sosial.

Mengapa ini penting? Ada beberapa alasan mendasar.

1. Arus informasi yang deras penuh risiko. Kita hidup di era banjir informasi. Setiap detik, jutaan konten beredar di dunia maya. 

Di antara lautan informasi itu, banyak pula hoaks, disinformasi, dan ujaran kebencian. Tanpa kesadaran etis, literasi digital justru bisa melahirkan manusia-manusia “pintar tetapi berbahaya”.

Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved