Opini
Opini - Jeritan Alam NTT dan Panggilan Pertobatan Ekologis
Gereja mengajak umat untuk melakukan pertobatan ekologis, yakni perubahan cara berpikir dan cara hidup agar lebih menghargai alam.
Opini - Jeritan Alam NTT dan Panggilan Pertobatan Ekologis
Oleh : Primus Nifu
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang
POS-KUPANG.COM - Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu daerah yang dianugerahi kekayaan alam dan budaya yang luar biasa. Hamparan savana, perbukitan yang indah, serta kekayaan laut yang melimpah menjadi identitas yang membanggakan.
Namun, di balik keindahan tersebut, NTT sedang menghadapi berbagai persoalan ekologis yang semakin serius. Kekeringan yang berkepanjangan, krisis air bersih, kerusakan hutan, serta perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem menjadi ancaman nyata bagi kehidupan masyarakat.
Situasi ini menunjukkan bahwa alam sedang mengirimkan pesan kepada manusia. Jeritan alam tidak boleh dipandang sebagai peristiwa biasa, melainkan sebagai panggilan untuk melakukan refleksi dan perubahan.
Krisis ekologis di NTT tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Sebagian besar penduduk NTT masih bergantung pada sektor pertanian dan peternakan.
Ketika musim hujan datang terlambat atau curah hujan semakin berkurang, hasil pertanian menurun dan ketersediaan pakan ternak menjadi terbatas.
Di berbagai wilayah seperti Timor Tengah Selatan (TTS), Timor Tengah Utara (TTU), Belu, dan Kabupaten Kupang, masyarakat sering mengalami kesulitan memperoleh air bersih saat musim kemarau.
Bahkan di Kota Kupang, persoalan distribusi air masih menjadi tantangan yang dirasakan oleh banyak warga. Kondisi ini memperlihatkan bahwa kerusakan lingkungan memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
Persoalan tersebut semakin memprihatinkan ketika dikaitkan dengan kondisi kemiskinan di NTT. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di NTT masih berada di atas rata-rata nasional.
Meskipun terjadi penurunan dalam beberapa tahun terakhir, jutaan masyarakat masih hidup dalam keterbatasan ekonomi. Dalam situasi seperti ini, krisis ekologis menjadi beban tambahan bagi kelompok yang paling rentan.
Ketika sumber air mengering dan hasil panen menurun, masyarakat miskin menjadi pihak yang pertama merasakan dampaknya. Karena itu, persoalan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari persoalan kemanusiaan dan keadilan sosial
Dalam dokumen Laudato Si, Paus Fransiskus mengingatkan bahwa bumi adalah “rumah bersama” yang dipercayakan Allah kepada manusia untuk dirawat dan dijaga.
Manusia bukan pemilik mutlak alam, melainkan penatalayan yang bertanggung jawab atas kelestariannya. Ketika manusia mengeksploitasi alam secara berlebihan demi keuntungan ekonomi, yang rusak bukan hanya lingkungan, tetapi juga relasi antara manusia, sesama, dan Allah.
Karena itu, Gereja mengajak umat untuk melakukan pertobatan ekologis, yakni perubahan cara berpikir dan cara hidup agar lebih menghargai alam sebagai ciptaan Allah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Primus-Nifu-ok.jpg)