Kamis, 11 Juni 2026

Opini

OPINI : Piala Dunia 2026 Bisa Menjadi Panggung Lahirnya Juara Baru

Bila skenario tersebut terjadi maka Piala Dunia 2026 akan dikenang bukan karena mempertahankan dominasi lama, melainkan karena menjadi titik awal

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Sipri Seko
POS-KUPANG.COM/HO
JUARA DUNIA - Fary Djemi Francis berprediksi akan lahir juara baru di Piala Dunia 2026 

Oleh: Fary Djemy Francis *

PIALA Dunia 2026 berpotensi menjadi salah satu turnamen paling menarik dalam sejarah sepakbola modern. Untuk pertama kalinya, format 48 negara akan membuka peluang lebih besar bagi munculnya kekuatan-kekuatan baru yang selama ini berada di bawah bayang-bayang negara tradisional seperti Brasil, Argentina, Jerman, Perancis dan Spanyol.

Menurut saya, justru era dominasi negara-negara besar mulai menghadapi tantangan serius. Perkembangan teknologi pelatihan, sport science, analisis data, serta globalisasi kompetisi sepak bola telah mempersempit kesenjangan kualitas antarnegara.

Kini, keberhasilan tidak lagi semata ditentukan oleh nama besar, tetapi oleh kualitas sistem, kedalaman skuad, dan kemampuan beradaptasi. Dalam konteks tersebut, Belanda dan Jepang layak disebut sebagai dua kekuatan disruptif Piala Dunia 2026.

Belanda memiliki fondasi sepak bola yang sangat kuat, filosofi permainan yang jelas, serta tradisi panjang menghasilkan pemain kelas dunia. Meski tidak selalu masuk kelompok favorit utama, Belanda sering tampil efektif ketika ekspektasi publik tidak terlalu tinggi. Dengan kombinasi pemain senior dan generasi baru yang matang di liga-liga elite Eropa, Belanda berpotensi menjadi "silent contender" yang perlahan menyingkirkan para unggulan hingga mencapai partai puncak.

Sementara itu, Jepang menghadirkan model pembangunan sepak bola yang berbeda. Jepang bukan dibangun melalui kekuatan individu, melainkan melalui disiplin kolektif, investasi jangka panjang, pengembangan talenta muda, dan budaya kerja yang konsisten. Saat ini Jepang telah berkembang menjadi representasi sepak bola Asia yang modern, efisien, dan kompetitif di level dunia.

Yang menarik, jika Belanda mewakili evolusi kekuatan sepak bola tradisional Eropa, maka Jepang mewakili masa depan sepak bola global yang berbasis sistem. Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang telah membuktikan bahwa mereka mampu mengalahkan tim-tim elite dunia. Hal ini menunjukkan bahwa batas antara negara favorit dan nonfavorit semakin tipis.

Karena itu, saya melihat Piala Dunia 2026 bukan sekadar pertarungan memperebutkan trofi, melainkan pertarungan antara tradisi dan inovasi. Jika negara-negara favorit gagal beradaptasi dengan dinamika baru turnamen, maka peluang lahirnya juara kejutan akan semakin terbuka.

Prediksi saya, Spanyol dan Prancis tetap menjadi kandidat terkuat. Namun apabila terjadi kejutan besar, maka Belanda memiliki peluang menjadi juara baru pertama dari Eropa Barat dalam era modern, sedangkan Jepang berpotensi menciptakan sejarah sebagai negara Asia pertama yang mengangkat trofi Piala Dunia.

Bila skenario tersebut terjadi maka Piala Dunia 2026 akan dikenang bukan karena mempertahankan dominasi lama, melainkan karena menjadi titik awal lahirnya tatanan baru sepak bola dunia, di mana keberhasilan ditentukan oleh kualitas sistem, inovasi, dan kemampuan bertransformasi, bukan semata-mata oleh reputasi masa lalu. *

*) Penulis adalah Dewan Pembina Garuda Yaksa Fc Academy

 

 

 

Baca berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE.NEWS

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait:#Opini
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved