Opini
Opini: Balada Negeri Tabola Bale
Gaung kemerdekaan terkesan hanya repetisi dan formalitas belaka tetapi substansi kemerdekaan masih jauh dari harapan.
Upaya perangi korupsi sepertinya tidak lagi bergaung bahkan pengejaran hingga Antartika serasa hanya slogan dan dongeng semata.
Jika para koruptor diberi remisi maka mereka akan keenakan untuk terus melanjutkan aksinya ketika sudah bebas.
Negara ini terlalu menormalisasi para koruptor untuk kembali ke panggung politik dan ini jika dibiarkan terus menerus nasib masa depan Indonesia akan seperti Yugoslavia.
Remisi dan Abolisi pasca HUT RI 80 adalah satu pukulan hebat bagi penegakan hukum tindak pidana korupsi.
Jika dicermati dengan baik, ini bukan sekadar belas kasih seorang kepala negara tetapi semacam manuver politik untuk pertarungan di Pemilu yang akan datang.
Bisa jadi remisi dan abolisi hanya tameng untuk memperbaiki citra di hadapan lawan politik agar isu pelanggaran HAM masa lalu dan keputusan MK terkait pencalonan wakil presiden tidak terus digugat.
80 Tahun Merdeka Namun Masih "Terjajah"
Perayaan HUT kemerdekaan Indonesia yang dirayakan setiap tahun semakin ke sini semakin kehilangan maknanya.
Gaung kemerdekaan terkesan hanya repetisi dan formalitas belaka tetapi substansi kemerdekaan masih jauh dari harapan.
Rakyat miskin Indonesia terus bertambah setiap tahun, lapangan kerja sulit, tetapi pemerintah disibuk mengurus dapur negara orang.
Masih banyak rakyat Indonesia yang membutuhkan uluran tangan pemerintah berupa logistik, layanan kesehatan dan pendidikan yang layak.
Selain itu kasus-kasus intoleransi terus meningkat, putra dan puteri bangsa yang ingin menyembah Tuhannya digrebek bak penjahat, pembangunan rumah ibadat dipersulit bahkan oleh pemerintah setempat sendiri.
Sebenarnya negara ini negara satu agama atau negara yang mengakui beberapa agama.
Ini adalah realitas Indonesia di usia 80 tahun dan rasa terjajah masih berjalan terus bukan oleh bangsa asing tetapi oleh saudara sebangsa dan setanah air yang hanya karena beda agama didiskriminasi baik di lingkungan pendidikan maupun tempat kerja.
Indonesia mari bersatu berdaulat agar rakyat sejahtera sehingga negeri ini maju. Mari tinggalkan isu perbedaan-perbedaan yang memecah belah bangsa ini.
Kita kembalikan marwah kemerdekaan Indonesia ke jalan yang benar sehingg terciptalah rakyat hidup makmur dan sentosa.
“Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”. Dirgahayu Republik Indonesia. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
Jondry Siki
HUT Kemerdekaan RI
Tabola Bale
Dirgahayu RI
sikap intoleransi
Opini Pos Kupang
Abraham Lincoln
| Opini: Grooming Bukan Cinta- Pelajaran Pahit dari Buku Broken Strings |
|
|---|
| Opini: Budaya Kepatuhan Simbolik dan Krisis Akuntabilitas Infrastruktur di Manggarai Timur |
|
|---|
| Opini: Iman yang Rajin Tapi Takut Jujur |
|
|---|
| Opini: Ketika Belanja Pegawai Menggerus Ruang Fiskal Produktif NTT |
|
|---|
| Opini: Sekolah Aman Itu Urusan Siapa? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Dari-vodeo-klip-lagu-Tabola-Bale.jpg)