Opini

Opini: Iman yang Rajin Tapi Takut Jujur

Pemazmur berbicara tentang kasih setia yang kekal pada saat tahta Daud tampak runtuh dan janji ilahi seolah tertunda. 

Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO
John Mozes Hendrik Wadu Neru 

Mazmur 89 dan Kesetiaan Allah di Tengah Spiritualitas yang Pandai Menghibur tapi Enggan Menggugat

Oleh:  John Mozes Hendrik Wadu Neru 
Pendeta Gereja Masehi Indili di Timor (GMIT)

POS-KUPANG.COM - Nusa Tenggara Timur (NTT) sering disebut sebagai wilayah yang religius. 

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan lebih dari 96 persen penduduk NTT terafiliasi dengan agama formal, dengan tingkat partisipasi ibadah yang relatif tinggi dibandingkan rata rata nasional. 

Gereja gereja aktif, kalender liturgi dijalankan dengan disiplin dan  bahasa iman hadir dalam ruang keluarga hingga ruang publik. Secara kasat mata, iman tampak hidup.

Namun realitas sosial menunjukkan wajah yang jauh lebih kompleks. Tingkat kemiskinan NTT pada 2024 berada di kisaran 19,48 persen, hampir dua kali lipat rata rata nasional. 

Prevalensi stunting masih berada di sekitar 37 persen menurut Survei Status Gizi Indonesia Kementerian Kesehatan, salah satu yang tertinggi di Indonesia. 

Baca juga: Area Pencarian Pesawat ATR Indonesia Air Transport Diperluas

Di sejumlah kabupaten, akses rumah tangga terhadap air minum layak belum mencapai 60 persen sebagaimana tercatat dalam NTT Dalam Angka 2024.

Angka angka ini bukan sekadar statistik administratif. Ia adalah penanda tubuh tubuh kecil yang tumbuh dalam kekurangan, keluarga yang hidup dalam kecemasan ekologis dan  masa depan yang terus dinegosiasikan dengan keterbatasan.

Pertanyaan yang muncul bukanlah apakah iman hadir, melainkan bagaimana iman bekerja di tengah realitas seperti ini. 

Apakah iman menjadi daya baca atas luka sosial atau justru menjadi selimut yang terlalu rapi untuk menutupinya.

Mazmur 89 memberi pintu masuk yang jujur. Ia dibuka dengan nyanyian tentang kesetiaan Allah, namun ditulis dari ruang sejarah yang rapuh. 

Pemazmur berbicara tentang kasih setia yang kekal pada saat tahta Daud tampak runtuh dan janji ilahi seolah tertunda. 

Ini bukan iman yang lahir dari stabilitas, melainkan iman yang bertahan di ambang keruntuhan makna. 

Karena itu Mazmur ini relevan dibaca sebagai refleksi publik, bukan sekadar teks ibadah.

Spiritualitas yang Menghibur Tanpa Menggugat

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved