Selasa, 14 April 2026

Liputan Khusus

LIPSUS: Jean Kana Enggan Santap MBG, Penentuan Vendor Asal-asalan

Dua siswi kelas 9K, SMP Negeri 8 Kota Kupang, Jean Kana dan Geisya Adoe masih menjalani perawatan di RSUD SK Lerik Kota Kupang.

|
POS KUPANG/KODIM MANGGARAI
ARAHAN - Dandim 1612/Manggarai, Letkol Inf Budiman Manurung, sedang memberikan arahan kepada puluhan SPPI.  

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Dua siswi kelas 9K, SMP Negeri 8 Kota Kupang, Jean Kana dan Geisya Adoe masih menjalani perawatan di RSUD SK Lerik Kota Kupang.

Jean dan Geisya merupakan korban yang diduga keracunan menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan di sekolah tersebut pada Senin (21/7). Ratusan siswa merasakan sakit perut dan menceret berkali-kali.

Puncaknya pada Selasa (22/7) siswa-siswi tersebut menjerit kesakitan saat berada di sekolah tersebut.

Saat ditemui di ruang perawatan, Jean dan Geisya tampak lemas namun sudah mulai pulih.

Keduanya menceritakan kronologi kejadian yang dialaminya sejak hari Senin (21/7), saat pertama kali menyantap makanan MBG di sekolah.

Baca juga: LIPSUS: Lima Juru Masak Layani 3.442 Penerima, Masak 4 Jam, Aktivitas SPPG Maulafa 3 

“Waktu itu kita makan sekitar jam 09.50 Wita pagi. Menunya rendang sapi, tahu goreng, sayur, dan pisang. Tapi rendangnya sudah berbusa, ada lendir merah. Sayurnya juga bau, kuahnya asam. Habis makan langsung sakit perut, pusing, dan menceret sampai malam,” ungkap Jean dan Geisya saat diwawancarai Pos Kupang secara terpisah di ruangan Cendrawasih (27/7) .

Jean sempat dibawa ke RS Mamami, namun hanya diberi obat dan diminta pulang. Namun, gejalanya tak kunjung membaik. Pada hari Jumat, ia akhirnya dirujuk ke RSUD SK Lerik untuk observasi lebih lanjut. 

Jean kini sudah menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Meski demikian, trauma masih membekas.  “Sekarang sudah mendingan, tapi saya tidak mau lagi makan dari MBG. Lebih baik bawa bekal sendiri,” kata Jean.

Pihak keluarga berharap insiden ini menjadi perhatian serius pemerintah dan penyelenggara MBG. Mereka mendesak agar sistem distribusi dan pengawasan makanan diperketat, agar kejadian serupa tak kembali terjadi.

“Saya trauma, Ini bukan lagi soal makan gratis, Tapi nyawa anak kami,” ujar Rizal Kana, ayah Jean.

Rizal tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Ia mempertanyakan mengapa makanan yang dibagikan ke anak-anak sekolah tidak diperiksa terlebih dahulu.

TERIMA KELUHAN-Pengawas layanan MBG menyatakan siap menerima keluhan siswa terkait layanan makanan bergisi gratis. Foto pengawas Yohanes Donbosco sedang awasi anak makan.
TERIMA KELUHAN-Pengawas layanan MBG menyatakan siap menerima keluhan siswa terkait layanan makanan bergisi gratis. Foto pengawas Yohanes Donbosco sedang awasi anak makan. (POS-KUPANG.COM/PETRUS PITER)

“Kalau anak saya mati, siapa tanggung jawab? Masa makanan untuk anak sekolah tidak dicek dulu? Harusnya sekolah buka kotak makan itu, cium dulu, lihat layak atau tidak,” tegas Rizal.

Ia mengaku tidak menolak program MBG, namun meminta adanya kontrol dan pengawasan yang ketat.  

“Program ini bagus, tapi pelaksanaannya sembarangan. Sekolah tidak bisa hanya terima dan bagi-bagi. Harus ada yang periksa, harus ada ahli gizi,” lanjutnya.

Rizal juga menyarankan agar pihak sekolah atau pemerintah menyediakan sistem evaluasi harian terhadap makanan yang disalurkan, termasuk uji kelayakan sebelum makanan dikonsumsi oleh siswa. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved