Opini

Opini: Dari Tiang Awan ke Tiang Bendera, Apakah Tuhan Masih Menuntun Kurikulum Kita?

Kepala sekolah memberi wejangan, guru-guru mencatat kehadiran, lalu upacara selesai dengan tepuk tangan singkat sebelum bubar ke kelas.

Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO-DOK PRIBADI
John Mozes Hendrik Wadu Neru 

Mazmur ini adalah kurikulum peringatan: 

  • Dengar baik-baik, pasang telinga, karena kita rentan menjadi generasi keras hati.
  • Ingat sejarah, supaya tidak menjadi generasi pewaris murka.
  • Ajar kepada anak cucu, agar mereka menaruh kepercayaan kepada Tuhan, bukan pada pola lama yang salah.

Di Sabu Raijua, gereja merayakan bulan pendidikan setiap tahun. Kita memasang baliho “Belajar Dari Masa Lalu, Pelajaran Berharga Untuk Masa Depan.” 

Tetapi apakah kita sungguh belajar? Ataukah kita sekadar mengulang drama Israel: setelah air keluar dari gunung batu, kita tetap bersungut dan akhirnya jatuh pada pola lama — menomorduakan Tuhan, membiarkan mutu pendidikan stagnan, membiarkan guru kontrak bertarung sendirian demi haknya, serta menanamkan mental lulus demi ijazah tanpa isi kepala?

Dari Comenius Sampai Bonhoeffer : Pendidikan Bukan Sekadar Meja dan Kursi

Johann Amos Comenius, bapak pendidikan Protestan modern, menulis dalam Didactica Magna (1657): “Semua orang harus diajar segala sesuatu dengan cara yang universal agar seluruh hidup mereka terbentuk demi kemuliaan Allah.”

Comenius menentang pendidikan elitis, dan menegaskan bahwa sekolah adalah lokakarya Allah — tempat karakter, pikiran, dan iman ditempa. 

Pendidikan, bagi Comenius, adalah pelayanan gereja untuk membentuk manusia seutuhnya, bukan sekadar warga negara patuh upacara. Tetapi bagaimana realitas kita?

Di Sabu Raijua, tak jarang sekolah hanya menjadi tempat menambal angka-angka dalam data Dapodik. Kepala sekolah sibuk mengurus laporan administrasi BOS.

Guru kontrak menunggu honor menetes dua kali setahun. Murid-murid menghafal Pancasila di bawah tiang bendera, tetapi tidak dibekali metode berpikir kritis apalagi fondasi iman yang dewasa.

Dietrich Bonhoeffer dalam Ethics (1949) berkata tajam: “Tugas pendidikan Kristen adalah menyiapkan manusia yang dapat memikul kebebasan dan tanggung jawab, bukan hanya penurut kebijakan.”

Tanpa disadari, banyak sekolah kita — bahkan yang lahir dari rahim gereja — lebih suka melahirkan penurut kebijakan daripada manusia merdeka yang berpikir teologis dan etis. 

Kita tak jarang bangga dengan banyaknya murid berseragam, tapi tak gelisah bahwa hanya sedikit yang sanggup berdiri kritis menolak korupsi atau menolong sesama di luar ritual upacara.

Tiang Awan dan Tiang Bendera: Dua Simbol, Dua Arah

Mazmur 78 menampilkan tiang awan dan tiang api sebagai instrumen Pendidikan rohani yang konkret.

“Pada siang hari dituntun-Nya mereka dengan awan, dan semalam-malaman
dengan terang api.” (ay.14)

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved