Opini
Opini: Dari Tiang Awan ke Tiang Bendera, Apakah Tuhan Masih Menuntun Kurikulum Kita?
Kepala sekolah memberi wejangan, guru-guru mencatat kehadiran, lalu upacara selesai dengan tepuk tangan singkat sebelum bubar ke kelas.
Itulah kurikulum Allah: bukan hanya papan tulis dan silabus, tetapi pengalaman langsung akan penyertaan dan pemurnian.
Sementara tiang bendera adalah simbol nasionalisme, kebanggaan kolektif kitasebagai bangsa. Itu penting.
Tapi ironinya, di banyak tempat, upacara Senin adalah ritual paling serius sepanjang pekan, sedangkan renungan rohani seringkali formalistik, dan pelajaran agama pun terbatas pada hafalan dogma.
Kita menjadi generasi yang lebih hafal teks Proklamasi ketimbang Mazmur. Lebih bisa menirukan gaya pidato pejabat daripada mendengar bisikan Roh Kudus.
Tiang bendera kita kokoh, tapi tiang awan sudah lama meninggalkan pekarangan sekolah.
Belajar Dari Masa Lalu: Supaya Tidak Jadi Generasi yang Bertepuk Hanya di Hari Ulang Tahun
Mazmur 78 memanggil kita belajar dari sejarah supaya kita tidak menjadi generasi yang “hatinya tidak teguh kepada Allah” (ay.8).
Dalam konteks pendidikan di Sabu Raijua, belajar dari masa lalu berarti jujur mengakui:
- Kita pernah terlalu bangga dengan pembangunan gedung, lalu lupa menyiapkan buku dan pustakawan.
- Kita pernah memuji banyaknya murid, tapi mengabaikan rasio guru yang tak memadai.
- Kita pernah berpuas diri pada sertifikasi, sementara guru kontrak menunggu honor, bahkan membeli kapur tulis dari uang pribadi.
- Kita punya sekolah Kristen, tetapi takut mengajarkan berpikir kritis tentang iman, takut menyinggung politik kotor, takut membela petani miskin.
Belajar dari masa lalu berarti kita tidak mau hanya menjadi generasi yang bertepuk tangan saat HUT RI, tetapi kehilangan suara profetik saat ketidakadilan menimpa guru, murid, atau petani.
Masa Depan yang Dituntun Tiang Awan: Bukan Sekadar Catatan APBD
Tuhan menuntun Israel bukan hanya supaya mereka nyaman, tetapi supaya mereka mengenal Dia dan menaruh kepercayaan kepada-Nya.
Kurikulum Allah tidak berhenti pada soal kelulusan atau sekadar raport bagus.
Kurikulum Allah menuntun umat-Nya menjadi bangsa yang berani berkata benar, menegakkan keadilan, mengasihi sesama — karakter yang jauh lebih penting daripada sekadar angka UN tinggi.
Pendidikan gerejawi dan umum di Sabu Raijua hari ini ditantang untuk bergerak dari sekadar mengisi Rencana Kerja Tahunan menjadi proses penuntunan spiritual dan moral.
Tiang awan tidak muncul dalam daftar pengadaan barang dan jasa, tapi ia sangat menentukan arah hidup kita.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.