Kamis, 23 April 2026

Opini

Opini: Pergeseran Makna Manusia sebagai Makhluk Politik, Dari Polis ke Platform

Polis menjadi tempat manusia belajar mengenali dirinya melalui keterlibatan dalam kehidupan publik. 

Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Bernabas Unab 

Oleh: Bernabas Unab
Mahasiswa filsafat yang menaruh perhatian pada isu etika dan politik kontemporer

POS-KUPANG.COM - Sejak awal peradaban, manusia dipahami sebagai makhluk sosial sekaligus politik. 

Aristoteles dalam "Politika" menyebut manusia sebagai "zoon politikon"—makhluk yang menemukan kemanusiaannya melalui kehidupan bersama. 

Dalam pandangan Yunani kuno, politik bukan semata persoalan kekuasaan, melainkan ruang pembentukan kebajikan dan pencarian kebaikan bersama. 

Polis menjadi tempat manusia belajar mengenali dirinya melalui keterlibatan dalam kehidupan publik. 

Baca juga: Opini: Manusia, Makhluk yang Tak Pernah Selesai Berbahasa

Di sanalah ia bukan hanya hidup berdampingan, tetapi juga berpikir, berdialog, dan bertanggung jawab terhadap komunitasnya.

Namun, dalam dunia modern yang ditopang teknologi digital, panggung politik manusia mengalami pergeseran mendasar. 

Ruang publik yang dahulu berbasis tatap muka kini berpindah ke ruang maya yang dikendalikan oleh algoritma dan platform media sosial. 

Dari polis ke platform, dari ruang pertemuan menjadi ruang layar, politik mengalami transformasi ontologis: ia tak lagi menuntut kehadiran reflektif, melainkan partisipasi instan. 

Yang dulu merupakan tindakan deliberatif kini bergeser menjadi reaksi emosional yang cepat dan dangkal.

Di media sosial, keterlibatan politik sering kali diwujudkan dalam bentuk tanda jempol, komentar, dan unggahan singkat. 

Aktivitas itu menciptakan ilusi partisipasi, padahal sering hanya menjadi gema dari opini yang telah diproduksi sistem. 

Jean Baudrillard pernah mengingatkan tentang bahaya "hiperrealitas", ketika citra lebih menentukan daripada kenyataan. 

Dalam konteks politik digital, manusia tidak lagi berbicara dari kesadaran rasional, melainkan dari dorongan untuk terlihat dan didengar. 

Demokrasi pun berubah menjadi demokrasi algoritmik, di mana bobot argumen kalah oleh kekuatan viralitas.

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved