Opini
Opini: Dari Tiang Awan ke Tiang Bendera, Apakah Tuhan Masih Menuntun Kurikulum Kita?
Kepala sekolah memberi wejangan, guru-guru mencatat kehadiran, lalu upacara selesai dengan tepuk tangan singkat sebelum bubar ke kelas.
Penutup: Dari Mazmur Menuju Ruang Kelas
Dietrich Bonhoeffer suatu ketika menulis surat dari penjara Tegel: “Hanya dengan kehidupan yang berakar pada Kristus orang akan sanggup melihat dunia dan bertindak di dalamnya dengan bebas.”
Bukankah itu tujuan pendidikan Kristen? Membentuk manusia bebas — bebas dari ketakutan, dari korupsi, dari mentalitas budak, lalu berani berpikir, percaya, dan bertindak?
Maka bulan pendidikan kali ini bukan semata soal mempercantik ruangan gereja atau memasang baliho bertema “Belajar Dari Masa Lalu, Pelajaran Berharga Untuk Masa Depan.” Ini soal memilih:
Apakah kita mau kembali dituntun oleh tiang awan dan tiang api — yaitu Allah yang hidup?
Ataukah cukup puas dengan tiang bendera, menyanyikan lagu wajib, sambil membiarkan generasi hanya hafal teks tetapi kehilangan moralitas, iman, dan hati nurani?
Mazmur 78 mengundang kita meniti jejak pedagogi Allah: mendengar, mengingat, lalu mewariskan iman yang menghidupkan. Jika tidak, kita akan menjadi generasi yang mahir upacara tapi gagal menegakkan keadilan.
Mahir slogan tapi tak sanggup berdiri bersama guru-guru kontrak. Mahir ritual tapi takut menyatakan tanggungjawab di hadapan Tuhan.
Dan saat itu terjadi, tiang awan akan bergerak — meninggalkan kita — sementara kita masih berdiri tegak di bawah tiang bendera, tanpa sadar sudah kehilangan arah. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.