Opini
Opini: Dari Tiang Awan ke Tiang Bendera, Apakah Tuhan Masih Menuntun Kurikulum Kita?
Kepala sekolah memberi wejangan, guru-guru mencatat kehadiran, lalu upacara selesai dengan tepuk tangan singkat sebelum bubar ke kelas.
Merefleksikan Mazmur 78:1-16 di Bulan Pendidikan GMIT
Oleh: Pdt. John Mozes Hendrik Wadu Neru
Pendeta GMIT, berkarya di Kabupaten Sabu Raijua - Nusa Tenggara Timur
POS-KUPANG.COM - Di halaman-halaman sekolah kita di Sabu Raijua, tiap Senin pagi, tiang bendera berdiri kokoh. Anak-anak berbaris. Lagu Indonesia Raya dikumandangkan.
Kepala sekolah memberi wejangan, guru-guru mencatat kehadiran, lalu upacara selesai dengan tepuk tangan singkat sebelum bubar ke kelas.
Indah — setidaknya dalam potret. Tetapi diam-diam kita bertanya: Apakah tiang bendera kita hari ini masih selaras dengan tiang awan dan tiang api yang menuntun Israel di padang gurun?
Apakah Tuhan masih menuntun kurikulum kita, atau kita hanya meniti upacara simbolis yang hampa?
Mazmur 78:1–16 mengingatkan kita pada pedagogi ilahi yang nyata, bukan sekadar formalitas.
Tuhan mengajar Israel melalui jalan panjang — membelah laut, menuntun dengan awan, menyalakan api pada malam, memancarkan air dari gunung batu.
Semua itu agar generasi masa depan mengenal, percaya, dan memegang perintah-Nya (ay.6–7).
Tapi di Sabu Raijua hari ini, kurikulum kita lebih mirip ritus administratif ketimbang perjalanan iman.
Kita mungkin rajin berbaris di bawah tiang bendera, tetapi gagal berdiri di bawah tiang awan yang menuntun hidup.
Mazmur 78: Sejarah Yang Sengaja Diulang
Asaf menulis Mazmur 78 bukan untuk memeriahkan ibadah umat, melainkan untuk membuka aib generasi Israel.
Ia menelanjangi keras kepala umat yang cepat lupa, meski baru saja diselamatkan.
“Mereka tidak mau hidup menurut perjanjian-Nya, mereka menolak hukum-Nya.” (ay.10)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.