Opini
Opini: Ketika Kabupaten Manggarai Belum Benar-benar Siap Melawan Rabies
Jika di satu desa sudah terjadi gigitan rabies, maka penanganan tidak cukup hanya dengan memberikan vaksin pada korban.
Oleh: Aldo Corason
Alumnus ITFK Ledalero Maumere, Nusa Tenggara Timur
POS-KUPANG.COM - Di tengah geliat pembangunan infrastruktur dan semangat pemerintah daerah mempercantik wajah kota Ruteng, satu ancaman senyap terus menebar ketakutan: rabies.
Penyakit ini tidak hanya menyerang tubuh manusia, tetapi juga menggigit sisi kemanusiaan kita — menyingkap kelemahan sistem kesehatan masyarakat dan kurangnya kesadaran kolektif terhadap bahaya yang mengintai di sekitar rumah.
Manggarai sedang diuji: sejauh mana nilai-nilai gotong royong dan solidaritas yang selama ini dibanggakan, mampu diubah menjadi tindakan nyata melindungi sesama dari ancaman penyakit mematikan ini.
Lonjakan Kasus yang Tak Terbendung
Data Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai menunjukkan fakta mencengangkan: tahun 2023 tercatat 1.777 kasus gigitan hewan penular rabies (HPR), dengan tiga korban meninggal dunia.
Setahun kemudian, kasus meningkat menjadi 1.891, disertai dua korban jiwa.
Baca juga: Opini: Pembahasan APBD 2026 di Tengah Pemotongan Transfer Ke Daerah
Hingga pertengahan 2025 saja, sudah ada lebih dari 1.300 kasus gigitan menunjukkan bahwa rantai penularan masih aktif dan sulit dikendalikan.
Peningkatan jumlah kasus ini menunjukkan kegagalan dalam memutus siklus infeksi di tingkat akar rumput.
Jika di satu desa sudah terjadi gigitan rabies, maka penanganan tidak cukup hanya dengan memberikan vaksin pada korban.
Harus ada langkah cepat: karantina hewan, penyisiran anjing bebas, serta investigasi kasus untuk memastikan virus tidak menyebar ke desa lain.
Hingga kini, sistem reaksi cepat semacam itu masih belum terlihat kuat di Manggarai.
Vaksin Memadai, Tapi Kesadaran Publik Masih Lemah
Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai memastikan stok vaksin anti-rabies cukup melimpah 6.650 vial untuk manusia dan 20.000 dosis untuk hewan peliharaan. Secara administratif, ini adalah kemajuan besar.
Namun ironinya, ketersediaan vaksin belum berbanding lurus dengan efektivitas pencegahan.
Banyak warga tidak tahu cara menangani gigitan anjing, bahkan masih mempercayai cara tradisional seperti mengoleskan minyak kelapa, abu dapur, atau air panas pada luka gigitan.
Praktik semacam ini memperparah risiko dan memperlihatkan betapa edukasi masyarakat masih tertinggal jauh dibanding penyediaan logistik medis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Aldo-Corason1.jpg)