Kamis, 28 Mei 2026

Opini

Opini: Teologi Pesisir dan Ekologi Harapan dari Sabu Raijua

Ketika isu pembangunan pariwisata menggema dalam dokumen kebijakan, maka pesisir Sabu Raijua pun ikut disebut. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
John Mozes Hendrik Wadu Neru 

Visi pembangunan yang menekankan kearifan lokal dan keberlanjutan ekologis patut diapresiasi sebagai tanda bahwa pembangunan bisa diarahkan bukan untuk segelintir, tetapi untuk semua.

Namun, pemerintah tidak dapat berjalan sendiri. Kolaborasi dengan gereja, sekolah, komunitas adat, pelaku UMKM, dan kaum muda menjadi keniscayaan. 

Tanpa partisipasi yang tulus dari rakyat, pariwisata bisa berubah menjadi panggung yang gemerlap di permukaan tetapi kosong di dalam — di mana rakyat menjadi penonton dari pertunjukan yang menjual kehidupan mereka sendiri.

Bijak Menimbang: Penambangan Pasir dan Luka Abrasi

Dalam semangat pembangunan, godaan untuk mengejar material seringkali membuat kita abai pada dampaknya. 

Penambangan pasir, misalnya, kadang dianggap sebagai hal sepele atau solusi jangka pendek untuk menopang infrastruktur wisata. 

Namun, kita harus belajar dari luka-luka pesisir yang telah menganga di banyak tempat: abrasi yang merampas rumah nelayan, pantai yang tak lagi ramah, dan garis pantai yang menyusut pelan-pelan, tak terdengar tapi mematikan.

Sikap bijak diperlukan. Bukan berarti semua tambang pasir harus ditolak, tetapi iaharus dilihat dalam bingkai keselamatan ekologis jangka panjang. Apakah hasil tambangnya lebih besar daripada nilai tanah yang hilang? 

Apakah keuntungan jangka pendek sepadan dengan risiko generasi berikutnya kehilangan rumah pesisirnya?

Teologi Pariwisata: Dari Relasi, Bukan Eksploitasi

Sebagai umat beriman, kita tidak bisa membicarakan pariwisata hanya sebagai urusan ekonomi. 

Pariwisata adalah perjumpaan yang harus berakar pada relasi etis—antara manusia dan alam, antara budaya dan pasar, antara iman dan tanah tempat kita berpijak.

Kita percaya bahwa bumi dan segala isinya adalah milik Tuhan (Mazmur 24:1). Maka, pengelolaan bumi tidak boleh hanya berorientasi pada laba, tetapi pada kasih.

Leonardo Boff dan Jürgen Moltmann mengingatkan kita bahwa ciptaan bukan sumber daya, melainkan komunitas kehidupan. 

Oleh karena itu, teologi pariwisata adalah teologi pembebasan dan tanggung jawab.

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved