Opini

Opini: Judi Online dan Antiqua et Nova

Kecerdasan ini membuat mesin berperilaku dengan cara yang hebat dan manusia akan disebut cerdas jika manusia berperilaku seperti mesin itu.

|
Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
RD. Polikarpus Mehang Praing 

Oleh: Romo Polikarpus Mehang Praing, Pr
Tinggal di Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui, Kupang  - NTT

POS-KUPANG.COM - Judi online lagi marak dan diakses hingga di tempat-tempat yang dianggap suci sekalipun. 

Ini adalah bentuk perjudian yang dilakukan melalui berbagai aplikasi internet dimana pemain bertaruh uang dengan maksud memenangkan kembali dengan jumlah uang lebih banyak atau mendapat keuntungan. Juga bisa mendatangkan kerugian. 

Dalam konteks hukum, judi online adalah aktivitas ilegal yang pelakunya bisa dikenai sanksi. 

Tidak sedikit fenomena buruk yang terekspose di media, misalnya suami-istri menjadi tidak harmonis bahkan saling bunuh, aksi bakar rumah, gantung diri, dll akibat kalah judi online

Praktik ini terkesan sulit diatasi apalagi dihentikan. Sulit karena akses internet dan kepemilikan HP merajalela dan bisa dilakukan kapan dan di mana saja. Sudah jadi budaya. 

Sejarah mencatat juga bahwa perjudian sudah terjadi sejak zaman Yunani kuno, seperti main dadu.

Di tengah maraknya judi online ada dokumen antiqua et nova. Dokumen ini dikeluarkan 14 Januari 2025 di Roma, oleh diskateri ajaran iman dan kebudayaan dan pendidikan Gereja Katolik untuk memberikan catatan hubungan antara kecerdasan buatan dan kecerdasan manusia dengan 117 poinnya. 

Bukunya sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia dan bermanfaat bagi banyak orang. Ada artificial intelligence (AI) sebagai kecerdasan buatan.

Kecerdasan ini membuat mesin berperilaku dengan cara yang hebat dan manusia akan disebut cerdas jika manusia berperilaku seperti mesin itu. 

Dipahami secara fungsional, bahwa aktivitas yang menjadi ciri pikiran manusia dapat dipecahkan melalui langkah-langkah digital atau yang dapat ditiru oleh mesin. 

Ia beroperasi atau melakukan tugas, mencapai tujuan, membuat keputusan berdasarkan data kuantitatif dan logika komputasional. Tapi tetap terbatas karena hanya pada kerangka kerja logis-matematis. 

Ia tidak memiliki tubuh fisik dan bergantung kumpulan data yang terekam. Berbeda dengan Human Intelligence yakni kecerdasan manusia. 

Pada manusia adalah kemampuan yang berkaitan dengan orang tersebut secara keseluruhan mencakup abstraksi, fisik, emosi, kreativitas, kepekaan estetika, moral, dan agama. Ia memiliki jangkauan yang fleksibel dan sangat luas.

Dokumen Antiqua et Nova menjelaskan bahwa AI, sebagai kecerdasan mesin-mesin atau aplikasi-aplikasi internet, adalah baik dan membantu tetapi ada risiko. Ia bisa menggantikan juga tidak melengkapi pekerjaan manusia. 

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved