Cerpen

Cerpen: Dompet Mama

Di dalam lipatanku yang lusuh tersimpan kebenaran universal: perempuan-perempuan sandwich bukanlah korban keadaan

Editor: Dion DB Putra
FREEPIK
ILUSTRASI 

Oleh: Rismayani Achmad
 
POS-KUPANG.COM - Aku dompet kulit sintetis yang dulu berkilau seperti mimpi, kini mengelupas bagai serpihan masa lalu yang enggan pergi. 

Selama tiga puluh tahun, aku menjadi saksi bisu perjuangan seorang perempuan bernama Ratna, yang mereka panggil Mama. 

Kini aku berada di tangan Dana, anak sulungnya yang mewarisi takdir yang sama.

Di dalam lipatanku, tersimpan lebih dari sekadar uang. Aku menyimpan detak jantung yang berdebar setiap kali tagihan datang, helaan napas yang tertahan ketika gaji belum cukup, dan air mata yang jatuh diam-diam di malam-malam sunyi. 

Aku adalah brankas kecil untuk impian-impian yang dipotong demi kebutuhan yang lebih mendesak. Generasi sandwich, kata mereka. 

Baca juga: Cerpen: Ruang Ketiga

Tapi bagiku, Dana adalah perpanjangan tangan Mama, melanjutkan simfoni cinta yang tak pernah berhenti dimainkan meski orkestra hidup terus berganti nada.

Lihatlah Dana saat ini, duduk di meja dapur yang sama tempat Mama dulu menghitung receh-receh untuk membeli beras. Matanya yang sayu itu persis mata Mama. 

Lelah tapi tak pernah menyerah, basah tapi tak pernah kering harapan. Di tangannya, dia menggenggam catatan kecil dari lipatanku. 

Tulisan Mama yang bergetar: "Untuk Dana, kalau Mama sudah tidak ada. Jangan lupa bayar listrik rumah nenek. Dia takut gelap."

Aku merasakan hangat air mata Dana yang menetes, sama seperti yang dulu sering kurasakan dari Mama. 

Air mata perempuan sandwich memiliki rasa yang unik—asin karena lelah, tapi manis karena cinta.

"Nenek, ini Dana. Cucu Nenek," bisiknya sambil menggengam tangan keriput neneknya yang duduk di kursi roda. 

Tangan yang dulu kuat menguleni adonan untuk dijual di pasar, tangan yang dulu tidak pernah lelah menyapu halaman setiap subuh, kini hanya bisa gemetar mencari-cari sesuatu yang hilang dalam ingatan.

"Siapa kamu? Kenapa kamu di rumahku?" tanya Nenek dengan tatapan kosong. Pertanyaan yang sama setiap hari. 

Dana menjawab dengan kesabaran tak terbatas. Seperti mantra cinta yang diulang hingga jadi doa.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved