Opini
Opini: Persoalan Hulu Pilkada Lembata
Inilah hal yang sebenarnya jauh lebih serius. Secara sepintas kelihatan iklim demokratis di Lembata sangat menggebu-gebu.
Ia tidak terpilih oleh kualitas program tetapi karena sukses meyakinkan pendukung minimalis untuk menjadikannya bupati lebih minus lagi.
Ia selanjutnya akan memimpin Lembata untuk lima tahun dengan harapan yang tidak terlalu tinggi.
Kalau dinamika politik dalam pilkada seperti ini maka kita hanya bisa mengamini apa yang dikatakan oleh W.C. Fields yang dikutip di depan.
Lembata dan banyak kabupaten lain dengan aura politik seperti ini hanya sebatas mengapung untuk dibawa ke hilir yang kemudian ditemukan di hilir dan dipersoalkan karena terjadi aneka pelanggaran.
Yang dibutuhkan di Lembata dan kabupaten lain di NTT adalah pemimpin hidup yang digagas lebih awal dan dikerucutkan dalam 2 sampai 3 paslon (itu sudah cukup).
Mereka ini diuji sebelum bertanding dalam pilkada untuk dapat berenang ke hulu. Itu yang perlu diupayakan kini.
Kita lalu berharap kepada siapapun yang terpilih tidak saja di Lembata tetapi juga di NTT.
Siapa tahu dalam benak mereka telah terbenam pemikiran untuk berani berenang ke hulu menggagas wilayahnya menjadi lebih baik?
Kalau itu terjadi maka kemajuan akan menjadi alasan bagi mereka untuk terpilih kembali.
Tetapi kalau masih sibuk dengan timses dan mesih terpengaruh dengan pemilihnya (yang hanya seberapa), maka hajatan pilkada hanyalah pil pahit tanpa efek. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.