Opini
Opini: Persoalan Hulu Pilkada Lembata
Inilah hal yang sebenarnya jauh lebih serius. Secara sepintas kelihatan iklim demokratis di Lembata sangat menggebu-gebu.
Persoalan Hulu
Banyaknya paslon yang ingin mengadu nasib di Pilkada tentu bisa disebut sebagai geliat demokrasi.
Tetapi bila ditelusuri, hal itu merupakan hilir yang bersumber dari hulu yang bila terus dibiarkan maka akan terus menjadi akar dari aneka masalah yang muncul kemudian.
Hal itu terjadi dengan aneka protes atas hasil pilkada yang biasa saja benar. Tetapi rangkaian persoalan itu hanyalah ekses dari sebuah awal yang tidak dibenahi secara baik.
Pertama, Lembata sebagai sebuah kabupaten pulau, sejak awal telah mengandung bibit perpecahan.
Dualisme Paji dan Demon bahkan bukan terjadi antar wilayah yang luas tetapi dilakukan dalam lingkup yang sangat kecil.
Sudah biasa ketika dalam sebuah kecamatan yang sama terdapat kategori ‘Paji’ dan ‘Demon’ yang masing-masingnya mengandung penilaian yang merendahkan satu sama lain.
Dalam arti ini maka ungkapan ‘Taan Tou’ (Tanah yang satu) untuk Lembata bukan sebuah kenyataan tetapi masih merupakan harapan.
Semboyan ini didegungkan di saat pilkada dengan tafsiran yang tentu saja berbeda-beda.
Yang pasti, di baliknya terlansir harapan, semoga orang dari daerah yang lain menerima calon pemimpin yang bukan seasal.
Jadinya semuanya menggaungkan hal yang sama dengan asumsi bahwa dari masing-masing daerah akan mengajukan calonnya sendiri-sendiri dan jumlah yang wajar adalah di atas 6 kalau harus mewakili berbagai daerah.
Kedua, terlalu banyaknya paslon bukannya menandai iklim demokrasi tetapi malah mengaburkan dan menguburkan demokrasi itu sendiri. Masing-masing paslon lebih fokus pada daerahnya masing-masing dengan asumsi dengan perolehan minimal saja seseorang bisa jadi pemimpin.
Bayangkan dengan pemilih sekitar 105 ribu orang, maka dengan perolehn 18 ribu suara saja seseorang bisa menjadi bupati. Hal ini terbukti.
Pasangan Tunas ( Petrus Kanisius Tuaq dan Muhamad Nasir) hanya memperoleh 19 ribu suara dan jadi pemenang. Saingan terdekat mendekat 18 ribu dan di bawahnya 13 dan 12 ribu suara.
Itu berarti, yang terpilih jadi bupati dan wakil bupati bisa dipastikan bukan putera terbaik tetapi putera ‘minimalis’ yang tidak bisa diprediksi.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.