Kamis, 16 April 2026

Opini

Opini: Jalan Terjal Demokrasi dan Diskursus Politik Gagasan

Dialektika antara masalah rakyat dan tawaran gagasan para kandidat menjadi diskursus yang dinamis nantinya.

Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO
Ilusrasi. 

Pasca kemenangan, rombongan itu akan menyusun rencana menguasai sumber daya alam dan mengendalikan mekanisme pemerintahan dengan remot kontrol dari jarak jauh. Para pemimpin daerah dan nasional dirantai keputusan politiknya. Setiap pasal dalam regulasi dan politik anggaran selalu berkalkulasi ongkos politik.

Jalan terjal berikutnya adalah model politik primordial. Pada beberapa daerah miskin, rakyat tidak memiliki akses politik yang luas dan kesadaran politik pun masih rendah. Komunitas ini tidak memiliki banyak tawaran alternatif dalam memilih. Mereka sangat menjaga “orang kita” dalam pemilihan.

Meski kandidat bersangkutan tidak memiliki kapasitas dan minim gagasan pembangunan yang penting kita punya orang. Batasan kita punya orang itu biasanya merujuk pada kesamaan agama, suku, daerah, golongan dan ras. Komunitas ini juga sering apatis terhadap keputusan politik para pemimpinnya.

Pokoknya kalau orang kita pasti baik. Dalam bahasa Sikka dikenal dengan istilah apu tora manu manu. Artinya ibarat ayam jago yang hendak ditaji, kita memilih ayam masing-masing.

Diskursus Politik Gagasan

Diskursus politik gagasan bukan hal baru dalam sejarah politik Indonesia. Para peminat sejarah bangsa tentunya sepakat kalau negeri ini dimerdekakan dengan gagasan-gagasan besar para pendiri bangsa.

Di tengah tekanan kolonial tentunya para pejuang kemerdekaan kita tidak memiliki banyak dana untuk menyogok penjajah agar kita bisa merdeka.

Belajar dari kondisi rakyat waktu itu yang masih terbelakang dan kurang berpendidikan akibat terus menerus dijajah tetapi mereka justru sangat mudah memahami gagasan para pejuang kemerdekaan.

Artinya politik gagasan sangat kuat pengaruhnya apabila diutarakan pada momentum yang tepat dengan kebutuhan rakyat. Warisan sejarah politik gagasan bangsa ini mesti memiliki ruang dalam dialektika pesta demokrasi pilkada serentak 2024 ini.

Pemilukada serentak 2024 mesti menjadi momentum adu gagasan antara para kandidat. Rakyat NTT misalnya sedang berada pada posisi paradoksal. Daerah ini sesungguhnya kaya raya dengan sumber daya alam dan sumber daya manusianya, tetapi di sisi lain justru masuk kategori daerah termiskin ketiga di Indonesia?

Kita pun setiap tahun digelontorkan dana transfer daerah yang tidak sedikit masuk ke NTT tetapi kurang dikelola secara maksimal lalu menghasilkan banyak SILPA di akhir tahun anggaran.

Padahal masih banyak masalah yang dihadapi rakyat yang tidak diselesaikan secara serius. Itu artinya kita sesungguhnya kekurangan gagasan dan aksi yang lebih realistis dalam membangun daerah kita.

Gagasan dan aksi ini lahir apabila para kandidat yang hendak maju mencalonkan diri ini merupakan orang-orang yang dekat dengan rakyat. Mereka yang saban hari berjibaku dengan masalah yang dihadapi rakyatnya.

Politik gagasan dan rencana aksi ini menjadi penting untuk dibahas dalam dinamika demokrasi menyambut pilkada tahun 2024 karena melalui cara itu rakyat dapat mengukur kapasitas dan kapabilitas dari seorang pemimpin.

Rakyat bisa membedah motivasi para kandidat cakada. Rakyat juga bisa mengetahui tentang harapan perubahan yang dinantikan secara terukur dari isi kepala dan hati para calon pemimpin.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved