Opini
Opini: Kartini, Aufklarung, dan Kritik Ekonomi-Politik
Berbeda dari dua tokoh itu, Kartini masuk ke ruang publik melalui kemampuan menulis dan merangkai pikiran berupa surat.
memakai akalnya sendiri dan selalu membutuhkan pengawasan orang lain.
Semasa sekolah, Kartini menikmati kemewahan bergaul dengan emikiran pencerahan yang diperolehnya dari buku-buku tentang liberalisme di Eropa dan dari diskusi dengan teman-teman orang Eropanya.
Pencerahan sebagai keberanian berpikir sendiri dan emansipasi dari belenggu-belenggu struktural adalah filosofi di balik surat-suratnya.
Tepat sekali ketika Jacques Abendanon, tangan kanan pemerintahan kolonial Belanda, merangkum surat-surat Kartini berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang.
Judul ini adalah semangat khas aufklarung. Cita-cita aufklarung adalah menghapus kegelapan yang identik dengan kebodohan dan penindasan dengan menyibak fajar akal budi yaitu berani berpikir sendiri,
hidup sebagai manusia bebas, dan menentukan diri sendiri.
Kritik Ekonomi-Politik
Semangat pencerahan ini menginspirasi kritik-kritik Kartini atas struktur penindasan dalam budaya, agama, dan ekonomi-politik pemerintahan kolonial.
Kritiknya terhadap struktur ekonomi-politik kolonial jauh lebih menarik karena di situ dia tampil sebagai warga negara dan analis ilmu politik-ekonomi yang sangat kritis. Berikut adalah salah satu bagian dari
suratnya yang memperlihatkan kritik ekonomi-politik yang tajam.
"Di sini masih ada suatu kejahatan, yang lebih buruk dan lebih besar dari alkohol. Oh! Betapa penderitaan yang dibawa oleh benda yang mengerikan itu bagi tanah air dan bangsaku tidak terkatakan. Candu adalah penyakit sampar bagi jawa. Ya malah candu lebih jahat dari sampar. Sampar tidak senantiasa ada, cepat atau lambat akan hilang, tetapi kejahatan candu, makin lama makin meluas, dan tidak akan, tidak pernah hilang. Alasannya sederhana karena dilindungi oleh pemerintah!
Semakin banyak candu dikonsumsi di Jawa, semakin penuh perbendaharaan negara. Penjualan lisensi candu adalah sumber pendapatan terkaya bagi pemerintah Hindia Belanda. Apa untungnya bagi rakyat?
Pemerintah memang beruntung, dan ini yang paling penting: suatu kutuk nista bagi rakyat memperkembung kantong pemerintah Hindia Belanda dengan berton-ton (candu) dengan jutaan ringgit".
Kartini menentang perkawinan jahat antara kekuasaan dan modal, penguasa politik dan kapitalis.
Dalam kasus perusahaan candu, Kartini menemukan pemerintah melindungi perusahaan ini yang dalam operasionalnya mengeksploitasi tanah rakyat, mempekerjakan secara paksa orang-orang pribumi tanpa upah, sementara candu merusak moral dan pikiran anak-anak bangsa Indonesia.
Tak tahu pasti, apakah Kartini membaca Das Kapital-nya Marx, tetapi isi suratnya menunjukkan kritiknya terhadap struktur ekonomi politik sangat Marxian. Menurut Marx, Negara adalah alat untuk mengeksploitasi kelas tertindas dan operatornya adalah the unvisible hands yaitu kapitalis.
Kita menyebut skandal ini sebagai oligarki. Penggalan surat di atas: karena dilindungi pemerintah mengungkapkan pemikiran Kartini bahwa negara telah dibajak korporasi, menjadi anjing penjaganya, dan memproteksinya dengan undang-undang.
Di sini, antagonisme kelas hilang karena negara dikuasai satu kelas. Marx pernah berkata bahwa negara adalah produk antagonisme kelas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ra-kartini_20160421_081605.jpg)