Opini
Opini: Kartini, Aufklarung, dan Kritik Ekonomi-Politik
Berbeda dari dua tokoh itu, Kartini masuk ke ruang publik melalui kemampuan menulis dan merangkai pikiran berupa surat.
Oleh: Peter Tan
Pengajar di Fakultas Filsafat Unwira Kupang, NTT
POS-KUPANG.COM - Salah satu topik diskusi dalam seminar Kartini yang digelar prodi Ilmu Pemerintahan Unwira 23 April 2024 adalah bagaimana Kartini menerobos sekat pemisah antara the sphere of oikos (ruang privat) dan the sphere of polis (ruang publik), bersinggungan dengan kekuasaan kolonial, dan melakukan kritik terhadap struktur ekonomi-politik kolonial yang timpang.
Joan B. Landes, dalam Woman and the Public Sphere in the Age of French Revolution, menyebut bahwa terdapat dua cara perempuan menerobos ke ruang publik yaitu melalui spoken words dan written words.
Cut Njak Dien dan Rasuna Said adalah contoh tokoh pejuang perempuan Indonesia yang berhasil masuk ke ruang publik dan menentang pemerintahan kolonial memakai kewibawaan lisan mereka untuk membakar semangat perlawanan rakyat.
Berbeda dari dua tokoh itu, Kartini masuk ke ruang publik melalui kemampuan menulis dan merangkai pikiran berupa surat.
Cara memahami makna perjuangan Kartini sangat bergantung pada perspektif dan metodologi yang dipakai untuk memahami isi surat-suratnya.
Dengan memakai perspektif dan metodologi kritik ekonomi-politik Marxian, Kartini dalam surat-suratnya tampak bukan lagi sekadar perempuan biasa melainkan seorang warga negara yang memahami akar-akar struktural penindasan dan ketidakadilan ekonomi-politik di bawah rezim kolonial Belanda.
Karena itu, perspektif ekonomi-politik kritis ini memperluas kajian sempit yang memandang Kartini hanya sebagai perempuan biasa, ibu rumah tangga, atau perempuan dari golongan aristokrat yang menentang patriarki dan feodalisme budaya.
Aufklarung
Kritik atas pembelengguan kebebasan individual oleh struktur sosial represif adalah semangat khas aufklarung (Pencerahan) pada abad ke-19. Kartini hidup, bertumbuh, dan memperoleh pendidikan di sekolah Eropa yang didirikan pemerintahan kolonial, tepat di penghujung abad ke-19.
Semangat auflkarung sudah pasti memengaruhi kesadarannya sebagai perempuan yang tumbuh besar dalam budaya aritoktrat, feodal, dan patriarki.
Cita-cita fundamental pencerahan itu dirumuskan secara padat oleh filsuf Jerman, Immanuel Kant [1724-1804] dalam tulisan pendek berjudul Was ist Aufklarung [1784].
Menurut Kant, pencerahan adalah pembebasan manusia dari belenggu nonage
[ketidakdewasaan mental] yang diciptakannya sendiri.
Manusia nonage adalah mereka yang tak mampu memakai pikirannya sendiri tanpa tuntunan orang lain. Bagi Kant, ketidakdewasaan bukan defisit pikiran melainkan minus keberanian untuk menggunakan akal sendiri tanpa harus dibimbing orang lain.
Karena itu, ketidakdewasaan tak sama dengan kebodohan, melainkan semacam situasi kelumpuhan mental yang membuat seseorang gagal
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ra-kartini_20160421_081605.jpg)