Berita Alor
Terinspirasi Kelompok Belajar, Desis Manikari Bentuk Kelompok Tani dan Ternak di Nurbenlelang Alor
Hal ini yang dilakukan oleh Desis Manikari, Ketua Kelompok Tani Gemetar yang berlokasi di Desa Nurbenlelang, Kecamatan Alor Tengah Utara
Penulis: Rosalia Andrela | Editor: Eflin Rote
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Rosalia Andrela
POS-KUPANG.COM, KALABAHI - Tinggal di wilayah pedesaan, bukan berarti menggantungkan hidup sepenuhnya pada hasil pertanian. Namun di tengah cuaca dan curah hujan yang tidak menentu, masyarakat desa bisa berinovasi mengembangkan usaha ternak.
Hal ini yang dilakukan oleh Desis Manikari, Ketua Kelompok Tani Gemetar yang berlokasi di Desa Nurbenlelang, Kecamatan Alor Tengah Utara, Kabupaten Alor.
Kecintaannya pada dunia pertanian dan peternakan, membuat Desis berpikir untuk memenuhi lahan perkebunan miliknya dengan berbagai jenis tanaman, ternak lele, dan juga ternak ayam.
Baca juga: Jagung di Desa Nurbenlelang Alor Terancam Gagal Panen
“Kelompok tani kami namanya Gemetar kepanjangannya dari Gerakan Membaca Sebentar. Gemetar ini sebenarnya kelompok belajar yang diinisiasi oleh anak sulung saya, Tabita Elisabeth Manilani. Setiap Minggu sore anak-anak berkumpul di sini belajar baca, tulis, hitung, sampai les bahasa Inggris,” ujar Desis sambil menunjuk bale-bale bambu yang ada di tengah kebunnya Sabtu, 6 Januari 2024.
Awalnya kelompok tani Gemetar fokus pada tanaman holtikultura dan tanaman pertanian lainnya. Suatu ketika salah satu anggota DPRD Provinsi NTT, menyalurkan bantuan bagi para peternak dengan syarat harus berkelompok. Desis lalu mengajak ibu-ibu yang anaknya tergabung dalam kelompok belajar tersebut, untuk membentuk kelompok ternak.
“Kelompok kami jumlahnya 10 orang, terdiri dari ibu-ibu dan juga ada beberapa mahasiswa yang sedang kuliah di Universitas Tribuana Kalabahi,” kata Desis.
Baca juga: Tersisa 10 Hari, Begini Penjelasan Ketua Divisi Data KPU Kabupaten Alor Tentang Pindah Memilih
Setelah menerima bantuan bibit ayam, kelompok tersebut sepakat untuk membuat kandang ternak di lahan milik Desis.
“Kebetulan sebelum menerima bantuan suami saya sudah punya kandang ternak sendiri, yang bibitnya kami beli dengan uang pribadi Ketika diskusi dengan kelompok, anggota menyarankan agar kandang tersebut dibuat di rumah saya saja karena lahannya masih luas dan kami sepakat,” ungkapnya.
Masing-masing anggota kelompok mendapat jadwal, satu hari ada 2 anggota yang membersihkan kandang dan memberi makan ayam di pagi dan sore hari.
Desis mengaku satu minggu bisa menghabiskan satu setengah karung pakan ayam. Setiap 3 bulan sekali ayam rutin diberi vaksin.
Baca juga: PGRI Alor Minta Kebijakan Penempatan Guru PPPK Merata di Sekolah Negeri dan Swasta
“Namanya kita memulai sesuatu kendalanya pasti ada. Ada ayam yang sakit kemudian meninggal, ada telur yang pecah dan lain sebagainya tetapi kami ibu-ibu kaum perempuan tetap maju. Kendala ini kami jadikan pelajaran. Hingga saat ini ayam kami jumlahnya 125 ekor, satu hari bisa menghasilkan 5 - 6 rak telur,” kisah Desis.
Satu rak telur dijual dengan harga Rp. 65.000. Saat Natal dan Tahun Baru kemarin, kelompoknya kewalahan melayani banyak pembeli telur karena jumlah telur yang diproduksi belum sepenuhnya memenuhi permintaan konsumen.
Karena ternak kami masih sedikit jadi belum bisa memenuhi permintaan telur segar, dalam jumlah banyak. Bahkan kemarin ada yang mau buat kue, karena jumlahnya belum cukup ambil dulu yang ada sisanya baru ambil besoknya saat panen,” ujarnya.
Baca juga: Hilang Dua Hari, Tim SAR Gabungan Alor Temukan Mustakim Meninggal
Lewat hasil peternakan ini, bukan hanya memenuhi kebutuhan hidup para anggota juga kebutuhan gizi anak-anak kelompok belajar dengan memberikan telur rebus atau kacang hijau saat mereka belajar di hari Minggu.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.