Puisi
Puisi: Ketika Kembali ke Rumah
Di gerbang menuju malam, masih ada hewan piaraan meminta jatah makan, anak-anak meminta jatah rotan
Oleh: Oswal Amnunuh *
Ketika Kembali ke Rumah
Di gerbang menuju desa, ibu menjemputmu dengan sepotong asap dapur. Ditentengnya kepulan asap yang masih baru di lengan kiri. Sedangkan adikmu yang masih lucu bergelayut malu di ketiak ibu.
Di gerbang menuju rumah, abang dan ayahmu yang sudah pandai menyembunyikan rindu di saku baju bicara sedikit dan terus menyesap kopi pahit. Diam-diam dua ekor ayam kampung tangguh sudah tersuguh di balik tudung saji.
Baca juga: Puisi-Puisi Pekan Suci Paskah
Di gerbang menuju malam, masih ada hewan piaraan meminta jatah makan, anak-anak meminta jatah rotan, tetangga datang bertanya datang kapan, dan anak-anak kecil bertanya itu siapa.
Ketika kembali ke rumah, tak ada yang berubah. Hanya saja rindu dan cinta bertambah tinggi.
Pada Bumi
Pada kursi kosong aku bersimpuh memohon kekuatan. Adakah separuh tempat untukku? Pada meja kosong aku bertaruh menaruh nasibku semoga lebih tenang. Akankah lebih untung kali ini?
Pada lahan kosong aku berteduh. Bukankah cangkul tak pantas di sini?
Pada puisi ini aku berteluh. Pastikah aku menguasai segala kepala?
(Bumi tahu semuanya tapi ia diam-diam saja)
Padamu aku meluruh. Sebab yang fana luluh, entah jatuh hati padamu.
Hari Sabat
Jika pada hari Rabu saya mencintaimu dengan setengah Minggu, pada hari Sabtu saya akan mencintaimu lebih erat.
Sebab pada hari Sabat, saya akan berdoa: bersetubuh bersamamu dengan lekat di dalam kamar yang pintunya terkunci rapat.
Ninabobo
Tak ada yang tahu siapakah yang dulu diciptakan. Nina atau bobo. Siapa yang lebih dulu terjatuh. Ular atau buah. Yang jelas, sedari awal bayi adalah makhluk yang paling diinginkan. Sebab makhluk mana lagi yang meski salah tetap menggemaskan.
Meski malas tetap dicintai, meski rengek tetap jadi rebutan. Pada penciptaan manusia berikutnya, kita harus melagukan Ninabobo bersama ular dan buah itu.
Lagu Lama
keluguan puisi terletak pada lagu-lagu lama yang kau candui
kau dengarkan sampai tengah malam dan memeluknya hinggga karam
lagu adalah gula-gula tidur
semakin banyak mendengar lagu saat tidur, semakin manis tidurmu dan semakin culas pula dengkurmu
tapi awas, nanti tidurmu berlubang
mendengarkan lagu lama-lama membuat waktu bangun terbengkalai
kita jadi tak mudah menghafal lagu-lagu lama, tapi lama mengenal nama waktu
Dua Orang Sedang Sembahyang di Rumah Doa: Masing-Masing Memukul Dada dan Membentur-Benturkan Jidat
Dosa. Doa yang salah!?
*) Oswal Amnunuh adalah pemuda asal Kaubele, Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Ia menyukai musik dan puisi jokpin. Bisa dijumpai di Facebook: oswalamnunuh atau di Instagram: @oswalamnunuh.
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-jejak-tapak-kaki.jpg)