Puisi
Puisi-Puisi Pekan Suci Paskah
Suara- suara itu bergema merdu sepanjang jalanan terjang menuju bukit maut Gol-Gota
Oleh: Dolin Ladon
Mahasiswa IFTK Ledalero Maumere, Flores - Nusa Tenggara Timur
Puas’a
Mari merasa puas
Puas untuk tidak merasa apa-apa
Di taman Getsemani
Semisalnya Aku menjelma rupa,
Remuk redam dan hilang bentuk.
Masikah engkau memujaku seperti Aku yang semula?
Perih sungguh rasanya, seperti tikaman maut..
Perlahan pelan ia kembali menjajaki langkah kakiNya
Tubuhnya gemetar kaku, jemari tanganya tak lagi penuh merangkul salib
pundaknya terasa amat lelah sebab bebanya makin ke sana makin berat
tali pun terus bertalu melingkari tubuhnya yang tak lagi utuh,
duri di kepalanya terus menikam dalam.
Cacian dan makian tak henti-hentinya disoraikan.
Bunuh dia,
gantungkan dia pada salib.
Suara- suara itu bergema merdu sepanjang jalanan terjang menuju bukit maut Gol-Gota
adalah sebentuk pengkhianatan nyata
Menjelma cepat
dari Hosana di Gerbang Kota ke salibkan Dia di Golgota.
ini perhentian ke berapa?
GumamNya lirih
Belum selesai,ayo bangun!
seorang algojo berteriak kencang.
Perhentian ke VII
Jatuh kedua kalinya
Ini tentang antara;
Engkau yang tak kuasa menahan,
Ataukah,
Salibku di pundak-Mu yang terlampau berat?
Perhentian ke IX
Engkau jatuh untuk ke sekian kalinya
dan bangun lagi
sedang aku
jatuh hanya sekali mengeluh berulang-ulang kali. (*)
Simak berita, artikel opini , cerpen dan puisi POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yesus-di-Getsemani-ilustrasi.jpg)