Kamis, 16 April 2026

Liputan Khusus

LIPSUS: Melki dan Johni Siap Terima Kritik, Sudah Setahun Memimpin Provinsi NTT

Dalam hasil survei yang dipaparkan Voxpol memunculkan dua wajah realitas dalam setahun kepemimpinan  Gubernur dan Wagub

|
POS-KUPANG.COM/IRFAN HOI
DISKUSI - Pdt Dr. Mery Kolimon ketika berbicara dalam diskusi publik satu tahun kepemimpinan Melki - Johni memimpin NTT berdasarkan survei kepuasaan publik 80,5 persen. Jumat, (20/2/2026) di Aula El Tari Kantor Gubernur NTT.    

Ringkasan Berita:
  • Dalam hasil survei yang dipaparkan Voxpol memunculkan dua wajah realitas dalam setahun kepemimpinan  Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Melki Laka Lena dan Johni Asadoma (Melki - Johni) yaitu angka kepuasan yang menguat, namun keluhan ekonomi dan infrastruktur yang masih dominan.
  • Hasil survei tersebut dipaparkan dalam diskusi kepuasan publik terhadap satu tahun kepemimpinan Melki - Johni, Jumat (20/2) di Aula El Tari Kantor Gubernur NTT. 
 

 

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Dalam hasil survei yang dipaparkan Voxpol memunculkan dua wajah realitas dalam setahun kepemimpinan  Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Melki Laka Lena dan Johni Asadoma (Melki - Johni) yaitu angka kepuasan yang menguat, namun keluhan ekonomi dan infrastruktur yang masih dominan.

Hasil survei tersebut dipaparkan dalam diskusi kepuasan publik terhadap satu tahun kepemimpinan Melki - Johni, Jumat (20/2) di Aula El Tari Kantor Gubernur NTT. 

Forum yang tersebut menghadirkan Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, sebagai pemapar hasil survei, dengan moderator Dr. I Yoga Putra Ardana.

Juga dibedah dua akademisi yaitu, Akademisi Undana, Dr. Laurensius Syairani dan Akademisi dari Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, Pdt Dr. Mery Kolimon

Pangi menjelaskan, survei dilakukan pada 5–14 Januari 2026 secara kuantitatif melalui wawancara tatap muka dengan kuesioner terstruktur. Metode ini dipilih untuk menjangkau keragaman geografis NTT, dari wilayah pesisir hingga pegunungan.

Sebanyak 800 responden dilibatkan. Dengan jumlah tersebut, kata Pangi, tingkat presisi dinilai tinggi dan mampu merepresentasikan persepsi publik, termasuk kelompok akar rumput seperti ibu rumah tangga, pedagang kecil, dan pekerja sektor informal.

Namun, di balik klaim representatif, diskusi juga memunculkan catatan agar pembacaan data tidak berhenti pada angka agregat semata.

Secara demografis, kelompok milenial (24–39 tahun) dan Gen X (40–55 tahun) menjadi penentu opini publik. Mereka dinilai lebih kritis dan aktif mengakses informasi.

Dari sisi pendidikan, angka warga yang tidak pernah sekolah tinggal sekitar 4 persen. Mayoritas responden berpendidikan SD dan SLTA, sementara tren pendidikan tinggi disebut mulai meningkat dibanding dua tahun lalu.

Meski demikian, potret ekonomi masih memprihatinkan. Sebanyak 49,6 persen responden berpenghasilan di bawah Rp 700 ribu per bulan. Sementara yang berpendapatan di atas Rp 5 juta hanya 2,6 persen. Kesenjangan ini menggambarkan struktur ekonomi NTT yang masih didominasi kelompok berdaya beli rendah.

Tak heran, 56,1 persen responden menilai persoalan ekonomi dari mahalnya kebutuhan pokok dan sulitnya lapangan kerja merupakan sebagai isu paling mendesak.

Di sektor infrastruktur dan layanan dasar, 69,7 persen responden menyoroti persoalan jalan rusak sebagai masalah paling krusial. Kondisi ini dinilai berdampak langsung pada distribusi hasil pertanian, mobilitas warga, hingga biaya logistik.

Isu validitas data kemiskinan juga mengemuka. Melki Laka Lena menyatakan pemerintah terbuka terhadap kritik dan evaluasi. Ia menilai survei menjadi instrumen kontrol publik yang sehat.

Capaian seperti penurunan kemiskinan dan stunting merujuk pada data resmi BPS dan survei nasional. Ke depan survei akan dilakukan secara lebih detail. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved