Cerpen
Cerpen: El Samoa
Lucky ingin bertanya kapan El Samoa akan berlayar lagi. Tapi ia tahu, larangan berlayar masih diperpanjang.
Itulah alasannya mengapa rumahnya menjadi lokasi nongkrong favorit. Setiap kali turun ke darat, teman-teman akan datang menyambangi. Begitu bahagianya teman-teman ini memiliki Vento.
El Samoa melakukan pelayaran tanggal 9 Januari. Mr. Geovanny; cruise director kapal ini menginformasikan bahwa tour ini akan membawa tamu-tamu spesial.
Vento selalu diandalkan untuk menjamu tamu-tamu penting di kapal ini. Ia pun telah memastikan perlengkapan kapal seperti life raft, pelampung, alat pemadam kebakaran, perlengkapan komunikasi dan navigasi.
Tak lupa juga perlengkapan medis manakala dibutuhkan. Ia ingat dirinya yang pernah diserang sakit lambung saat berlayar. Obat-obatan sangat dibutuhkan.
El Samoa siap meninggalkan pelabuhan Marina. Tamu-tamu telah tiba di kapal; mereka amat sumringah dan tak sabar lagi untuk berlayar dalam rengkuhan perkasa El Samoa.
Kapten Ahmad Jalaludin memerintahkan para crew untuk melepas tali tambat. El Samoa yang perkasa pelan bergerak menjauh dari tembok pelabuhan. Bunyi derit kayu bertalu dengan pukulan ombak kecil di lambung.
“Sudah aman Kep!” suara crew melapor lewat radio. Kapten Ahmad mendorong handle gas. El Samoa melaju pelan, seperti menari di bawah langit Labuan Bajo yang cerah dan biru.
“Selamat datang di El Samoa tuan dan nyonya sekalian. Semoga perjalanan kita tiga hari ke depan menyenangkan. Apapun yang dibutuhkan selama di kapal, sampaikan kepada kami” suara Vento amat lugas terdengar dari pengeras suara.
Ia menjelaskan seluruh isi kapal, sistem keamanan dan evakuasi, maupun tempat memesan kopi.
Tak lupa ia menjelaskan perkiraan cuaca di Komodo yang berhubungan langsung dengan kondisi pelayaran.
Kata-kata Lucky selalu terngiang di telinganya. Toh setiap pelayaran bersama El Samoa bukan paksa diri seperti penilaian Lucky. Kapten Ahmad selalu ia andalkan dalam setiap pelayaran.
Selain itu, keperkasaan El Samoa setidaknya dapat menantang arus dan gelombang di perairan Komodo.
Di hari itu juga, tim pencari korban Putri Sakinah masih berjibaku di sekitar lokasi kejadian. Kapten Ahmad sesekali menyapa mereka lewat saluran 16.
“Permisi, Ndan! Kami ada di buritan” begitu ia memberi kode saat melihat KM. SAR Puntadewa. Kepada tamu, Vento hanya memberikan informasi terbatas tentang kejadian ini.
Ia tidak ingin mengganggu suasana hati tamu-tamu El Samoa. Walaupun ia mencoba mengusir kegugupannya sendiri saat melewati selat Padar; jalur ‘mulut botol’.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-kapal-di-Padar.jpg)