Cerpen
Cerpen: El Samoa
Lucky ingin bertanya kapan El Samoa akan berlayar lagi. Tapi ia tahu, larangan berlayar masih diperpanjang.
Meja kayu jati berbentuk persegi panjang itu pun dipenuhi beberapa botol bir, ikan kerapu dibikin kuah asam, rokok surya 12, dan asbak putih.
“Daerah Waekesambi ini kayaknya lebih panas e!” kata Lucky setelah menyeruput bir langsung dari botol.
“Ah, itu kau kasi kode sudah!” jawab Vento disertai gelak tawa teman-teman di lingkaran meja.
Lagu Jingle Bells menyelinap begitu saja di tengah percakapan mereka. Langit tetap panas walau hari semakin sore. Aroma kue Natal masih terasa.
Harum semerbak. Bikin rindu kampung halaman. Namun, baik Lucky atau Vento, kenangan Natal selalu lekat dengan Komodo. Tiap Natal tiba, mereka pasti sedang berlayar di Komodo.
“Sial kadang tidak pernah kasi kode macam kau Lucky. Ia datang saat kita tidak siap,” celetuk Vento menyambung pembahasan tentang tragedi Putri Sakinah.
“Kita ini perlu selalu cermin diri, bro. Pariwisata memang lahan basah. Tapi ingat, yang berlebihan selalu menjadi sumber masalah.” sanggah Lucky. Teman-teman yang lain mengamini pikiran Lucky.
Telepon genggam Vento berbunyi. “Halo Pak, saya sedang di rumah. Baik Pak!”
Ia menjawab panggilan dengan sigap. “Jadwal trip lagi, saya disuruh ke kapal untuk mengecek perlengkapan.” Vento menjelaskan isi percakapannya.
Lucky ingin bertanya kapan El Samoa akan berlayar lagi. Tapi ia tahu, larangan berlayar masih diperpanjang. Mereka melanjutkan percakapan seputar Selat Padar.
“Kita sebenarnya sangat takut setiap kali melewati mulut botol itu. Tapi kita sedang membawa orang-orang dengan mimpi liburan yang menyenangkan di Komodo!” kata Vento.
Baca juga: Cerpen: Di Hadapan Layar Kaca
“Jangan paksa diri, bro! Liburan itu cari kesenangan. Kau ingat teman kita Yoris yang juga hilang di lokasi yang sama. Kasian sekali!” Lucky mengingatkan.
Vento sebetulnya menyadari risiko bekerja di El Samoa. Jadwal tour sangat padat sejak musim ramai bulan Juli.
Kapal itu sudah pasti akan melintasi selat Padar dua kali seminggu. Turis-turis asing berdatangan demi menikmati sunrise dari Pulau Padar walau kapal harus berlayar sore atau malam hari.
Di luar segala risiko itu, penghasilan crew El Samoa tidak tertandingi. Jika dibandingkan dengan Lucky, pengasilan Vento berlipat-lipat perbandingannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-kapal-di-Padar.jpg)