Opini
Opini: Manusia Pasca-perhatian
Krisis perhatian ini diperparah oleh hegemoni masyarakat transparansi yang pornografis. Transparansi menghilangkan batas jarak pelindung jiwa.
Giorgio Agamben menekankan bahwa inoperosità “berhenti sejenak” bukanlah kemalasan, melainkan tindakan menonaktifkan fungsi utilitarian hidup untuk menemukan penggunaan baru yang lebih mulia, seperti ibadah dan persahabatan sejati (Giorgio Agamben, Homo sacer. El poder soberano y la vida desnuda).
Keheningan ini adalah bentuk resistensi politik tertinggi terhadap kapitalisme yang membenci kesunyian.
Manusia pasca-perhatian adalah manusia yang kehilangan kemampuan untuk hadir secara utuh bagi dirinya sendiri, sesama, dunia, dan Allah.
Di bawah rezim kapitalisme kinerja dan masyarakat transparansi yang pornografis, perhatian direbut oleh tuntutan produktivitas, konsumsi, dan paparan tanpa henti, sehingga manusia direduksi menjadi fungsi biologis dan nilai ekonomis semata.
Krisis ini melahirkan berbagai patologi sosial, mulai daripada depresi, perdagangan bayi, komodifikasi tubuh hingga perbudakan seksual dan bunuh diri.
Persoalannya bukan sekadar krisis moral atau politik, melainkan keruntuhan ontologis kemanusiaan.
Pemulihan hanya dimungkinkan melalui pendidikan perhatian, keheningan, kontemplasi, dan kenosis yang mengembalikan manusia pada martabat serta makna terdalam keberadaannya. (*)
Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News
| Opini: Seni Mencintai Gaya Filsafat Antik |
|
|---|
| Opini: Vozinha dari Cape Verde dan Malam Ketika Dunia Berhenti Memercayai Statistik |
|
|---|
| Opini: Magnifica Humanitas, Kemanusiaan yang Agung |
|
|---|
| Opini - Praksis Pembebasan dan Inkulturasi Sejati Gereja Katolik di NTT |
|
|---|
| Opini: Indonesia Emas dan Produksi Kecemasan Nasional |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Melki-Deni1.jpg)