Opini
Opini: Manusia Pasca-perhatian
Krisis perhatian ini diperparah oleh hegemoni masyarakat transparansi yang pornografis. Transparansi menghilangkan batas jarak pelindung jiwa.
Jean Grondin mencatat bahwa hilangnya makna metafisika dalam keseharian membuat manusia kehilangan pegangan moral, sehingga kehidupan hanya dipahami melalui kuantitas dan efisiensi (Jean Grondin, Del sentido de las cosas: La idea de la metafísica, Barcelona: Herder, 2018).
Degradasi martabat manusia mencapai puncaknya pada fenomena jual beli bayi (Elena Crespi i Asensio, El negocio de los bebés.
La gestación subrogada, Madrid: Ediciones Akal, 2026), dan bisnis perbudakan seksual internasional (Lydia Cacho, Esclavas del poder: Un viaje al corazón de la trata sexual de mujeres y niñas en el mundo, Madrid: Debate, 2010).
Giorgio Agamben, jauh sebelumnya, mendalami hal ini dengan menunjukkan bagaimana manusia direduksi menjadi “hidup telanjang” (bare life atau nuda vita), sebuah kondisi di mana eksistensi manusia hanya dipahami sebagai fungsi biologis yang dipantau oleh kekuasaan (Giorgio Agamben, Homo sacer. El poder soberano y la vida desnuda, Buenos Aires: Adriana Hidalgo editora, 2018).
Dalam logika kapitalisme yang memuja kesehatan sebagai “berhala baru”, kehidupan yang dianggap tidak produktif atau “cacat” secara fungsional kehilangan haknya untuk ada di dunia.
Aborsi, komodifikasi bayi, dan bisnis perbudakan seksual dalam pasar gelap adalah bukti nyata bahwa biokekuasaan modern telah mengubah rahim dan kehidupan menjadi laboratorium ekonomi di mana nilai tukar mengalahkan nilai sakral dan eksistensial dari seorang manusia.
Manusia tidak lagi dilihat sebagai citra Allah, tetapi sebagai “potongan daging” yang dapat diproduksi, atau dibuang demi kenyamanan dan stabilitas prestasi dalam perintah kompetisi absolut.
Bisnis perbudakan seksual transnasional merupakan perwujudan dari apa yang disebut Byung-Chul Han sebagai “agoni eros”. Han berargumen bahwa kapitalisme menghancurkan Eros, hubungan dengan “Yang Lain” yang radikal, dan menggantinya dengan seksualitas yang dipornografikan dan dikomodifikasikan (Byung-Chul Han, The Agony of Eros, Cambridge: MIT Press, 2017).
Dalam perbudakan seksual, tubuh manusia benar-benar ditelanjangi dari martabatnya dan diubah menjadi mesin pemuas instan dalam sirkulasi modal global.
Ini adalah bentuk ekstrem dari masyarakat transparansi yang pornografis di mana tidak ada lagi misteri atau kehadiran yang personal; yang ada hanyalah eksploitasi total terhadap “hidup telanjang”.
Simone Weil, dalam refleksinya mengenai kondisi buruh, menyatakan bahwa ketika manusia dipaksa bekerja hanya untuk bertahan hidup tanpa keterlibatan spiritual, ia mengalami “tercerabut” dari akar kemanusiaannya (Simone Weil, Echar raíces, Madrid: Trotta, 2026).
Perbudakan seksual adalah salah satu bentuk ke-tercerabut-an yang paling keji, di mana perhatian manusia terhadap penderitaan sesama telah mati total akibat kerakusan kapital.
Di tengah kegelapan sistemik ini, alih-alih iman, manusia modern memilih pelarian dalam konsumsi stimulasi yang tiada henti. Weil mengajukan konsep perhatian sebagai “doa alami jiwa” (Byung-Chul Han, Sobre Dios: Pensar con Simone Weil, Barcelona: Paidós, 2024).
Perhatian yang murni adalah kemampuan untuk melepaskan keinginan ego dan membiarkan diri menjadi “kosong” agar penderitaan sesama manusia dan misteri kasih Ilahi dapat masuk ke dalam diri yang kosong.
Dalam gereja Katolik, Yesus Kristus muncul sebagai tokoh pembebas karena Ia mengajarkan jalan pengosongan diri.
| Opini: Seni Mencintai Gaya Filsafat Antik |
|
|---|
| Opini: Vozinha dari Cape Verde dan Malam Ketika Dunia Berhenti Memercayai Statistik |
|
|---|
| Opini: Magnifica Humanitas, Kemanusiaan yang Agung |
|
|---|
| Opini - Praksis Pembebasan dan Inkulturasi Sejati Gereja Katolik di NTT |
|
|---|
| Opini: Indonesia Emas dan Produksi Kecemasan Nasional |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Melki-Deni1.jpg)