Opini
Opini: Seni Mencintai Gaya Filsafat Antik
Dalam defenisi negasinya, cinta platonik adalah relasi cinta yang tidak sampai pada nafsu birahi atau daging.
Tanpa jiwa ini, dua orang yang menjalin persahabatan akan terjerumus dalam relasi cinta yang mengutamakan hawa nafsu dan kebanggaan semata semisal seksualitas, tampilan fisik (cantik atau ganteng), ataupun harta kekayaan.
Bagi Platon, kedua jiwa itu bukanlah sarana untuk mencapai eros (keindahan, kebaikan, atau keelokan).
Persahabatan itu mesti menempatkan eros sebagai tujuan dan hal tersebut hanya bisa dimungkinkan oleh jiwa logistikon.
Sedari awal Sokrates berulang kali menegaskan bahwa eros itu suatu kerinduan bagi dua pihak pelaku persahabatan yang memiliki aspirasi (kekurangan) yang sama. Sebab pada dasarnya manusia selalu merasa rindu atau menghasrati kebaikan.
Senyatanya bahwa manusia hidup dalam pola resiprokal atau adanya hubungan timbal balik satu sama lain. Namun pola itu hanya bersifat relatif.
Ada saatnya kita membutuhkan kapasitas orang lain dan ada saatnya pula kita bisa bertindak sendiri.
Bagi Sokrates, resiprokal hanya merupakan efek dari komitmen pelaku persahabatan pada kebaikan yang ada di luar diri mereka.
Oleh karena itu, relasi cinta ataupun persahabatan hari ini mesti dilandasi dengan eros atau hasrat terhadap kebaikan.
Sebagai pelaku persahabatan, manusia mesti menyadari bahwa kita adalah makhluk yang tidak sepenuhnya baik dan tidak sepenuhnya jahat.
Apabila manusia merasa bahwa dirinya baik, maka hasrat akan kebaikan itu tampaknya nihil.
Selain itu, jika persahabatan dirajut oleh orang yang baik bersama yang jahat, maka kerinduan akan eros itu akan membias.
Cinta antara dua insan perlu menempatkan kebaikan sebagai pihak ketika yang mengikat relasi itu.
Tampaknya terlalu teoretis, tetapi kebanyakan yang terlalu praksis kerap membawa mereduksi makna cinta. (*)
Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Antonius-Guntramus-Plewang1.jpg)