Opini
Opini: Seni Mencintai Gaya Filsafat Antik
Dalam defenisi negasinya, cinta platonik adalah relasi cinta yang tidak sampai pada nafsu birahi atau daging.
Dalam dialog tersebut, Sokrates berdialog dengan dua pemuda, Lysis dan Menexenos, untuk menyelidiki pertanyaan mendasar tentang apa itu persahabatan?
Melalui metode dialektika yang khas (jenis maietike), Sokrates menguji berbagai definisi tentang persahabatan.
Ia berangkat dari pengertian bahwa pelaku persahabatan adalah “yang sama” (sesama orang baik atau sesama orang jahat), lalu ada “yang berlawanan” (antara orang baik dan orang jahat) hingga “yang tidak sepenuhnya jahat sekaligus tidak sepenuhnya baik” (antara dua orang yang merasakan adanya kebutuhan akan kebaikan).
Teks ini memang menghadirkan argumentasi kritis dan dinamis tetapi berujung pada kebuntuan atau tanpa kesimpulan (aporia).
Orientasi dialog ini bukan untuk memberikan definisi final tentang persahabatan.
Dialog ini bertujuan melatih para pemuda di Paiderasteia (ranah metode Pendidikan Yunani antik) berpikir secara kritis demi melahirkan pengetahuan baru.
Ini mencerminkan orientasi pedagogis filsafat Platon yang menyatakan filsafat sebagai latihan jiwa untuk mencintai kebijaksanaan.
Gagasan filosofis utama dalam Lysis terletak pada upaya mendefinisikan hakikat persahabatan secara kritis.
Platon, melalui Sokrates, menunjukkan bahwa persahabatan tidak saja berbicara pada tataran ketertarikan akan tampilan fisik atau latar belakang personal, kesamaan atau kebutuhan resiprositas.
Persahabatan juga tidak ditentukan dari pihak pengasih atau kekasih saja. Persahabatan yang sejati itu muncul karena kebaikan menjadi obyek yang menyatukan dua pihak yang merasa kurang pada (proton philon) kebaikan itu .
Namun, bagi Platon, relasi persahabatan itu harus dilandasi dengan eros yang mewakili tiga jenis rasa kurang dalam jiwa manusia: epithumia (kesenangan), thumos (harga diri), dan logistikon (pengetahuan rasional).
Platon menawarkan logistikon sebagai landasan bagi pelaku relasi persahabatan karena itulah kebaikan sejati.
Cinta dalam Ranah Logistikon
Secara sederhana jiwa logistikon yang dimaksud Platon adalah jiwa yang berpusat di area sekitar kepala.
Dalam pengertian itu, Platon memandang bahwa logistikon menjadi jiwa yang mampu meredam derasnya nafsu jiwa epithumia (jiwa yang berada di area perut sampai ke bawah) dan jiwa thumos (jiwa yang berada di area dada).
Jiwa logistikon sangat penting untuk menguatkan fondasi cinta atau persahabatan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Antonius-Guntramus-Plewang1.jpg)