Kamis, 18 Juni 2026

Opini

Opini: Seni Mencintai Gaya Filsafat Antik

Dalam defenisi negasinya, cinta platonik adalah relasi cinta yang tidak sampai pada nafsu birahi atau daging. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ANTONIUS G PLEWANG
Antonius Guntramus Plewang 

Oleh: Antonius Guntramus Plewang
Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 

POS-KUPANG.COM - Barangkali kita kerap kali mendengar terminologi “cinta platonik”. 

Cinta platonik biasanya diartikan oleh orang-orang sebagai relasi cinta anak remaja pada taraf idealis tanpa turun ke level praksis (Setyo Wibowo, 2015). 

Dalam defenisi negasinya, cinta platonik adalah relasi cinta yang tidak sampai pada nafsu birahi atau daging. 

Cinta itu sedemikian tulus dan penuh kasih tanpa melibatkan hasrat seksual di dalamnya. Relasi yang terbangun di dalamnya berorientasi pada gagasan tentang suatu kebaikan tertinggi. 

Baca juga: Opini: Bunyi dan Hening

Itulah sebabnya cinta ini kerap diterjemahkan sebagai cinta yang teoretis, mengawang-awang atau menatap keindahan di atas.

Fenomena Cinta Modern

Zaman sekarang tampaknya agak lucu apabila anak remaja tidak memiliki pasangan alias “jomblo”. 

Tidak laku, belum mapan, tampilannya tidak menarik; demikian berbagai stigma yang kerap disematkan kepada orang-orang yang bersangkutan. 

Biasanya, relasi cinta modern melulu dilandasi pada harta kekayaan, good looking, red flag atau green flag, postur tubuh, ataupun pelbagai hal yang menjamin rasa bangga ketika seseorang memiliki pasangan. 

Yang dicari dalam relasi pacaran adalah hasrat seksual, tampilan fisik, punya kesamaan dalam hal materi, dan sebagainya. 

Makna cinta semakin kabur apabila kita melihat fenomena cinta modern. Gagasan tentang cinta melulu berpusat seputar kesenangan yang semu.

Belajar dari Dialog Lysis

Terlepas dari relasi pacaran, kita perlu melihat perkembangan relasi cinta yang sesungguhnya dari zaman Yunani Antik. 

Dalam konteks itu, relasi cinta tidak langsung dirumuskan secara sempit pada taraf berpacaran, lebih dari itu suatu pola persahabatan. 

Teks dialog Lysis (Dorion, 2004) merupakan salah satu karya awal Platon yang membahas tentang persahabatan (philia). 

Kata philia ini juga dalam alam pikir Yunani Klasik dipahami sebagai cinta. Kata yang sama digunakan dalam etimologis filsafat (philosophia) sebagai cinta terhadap kebijaksanaan. Philos artinya cinta dan Sophia artinya kebijaksanaan.

Dalam dialog tersebut, Sokrates berdialog dengan dua pemuda, Lysis dan Menexenos, untuk menyelidiki pertanyaan mendasar tentang apa itu persahabatan? 

Melalui metode dialektika yang khas (jenis maietike), Sokrates menguji berbagai definisi tentang persahabatan. 

Ia berangkat dari pengertian bahwa pelaku persahabatan adalah “yang sama” (sesama orang baik atau sesama orang jahat), lalu ada “yang berlawanan” (antara orang baik dan orang jahat) hingga “yang tidak sepenuhnya jahat sekaligus tidak sepenuhnya baik” (antara dua orang yang merasakan adanya kebutuhan akan kebaikan). 

Teks ini memang menghadirkan argumentasi kritis dan dinamis tetapi berujung pada kebuntuan atau tanpa kesimpulan (aporia).

Orientasi dialog ini bukan untuk memberikan definisi final tentang persahabatan. 

Dialog ini bertujuan melatih para pemuda di Paiderasteia (ranah metode Pendidikan Yunani antik) berpikir secara kritis demi melahirkan pengetahuan baru. 

Ini mencerminkan orientasi pedagogis filsafat Platon yang menyatakan filsafat sebagai latihan jiwa untuk mencintai kebijaksanaan.

Gagasan filosofis utama dalam Lysis terletak pada upaya mendefinisikan hakikat persahabatan secara kritis. 

Platon, melalui Sokrates, menunjukkan bahwa persahabatan tidak saja berbicara pada tataran ketertarikan akan tampilan fisik atau latar belakang personal, kesamaan atau kebutuhan resiprositas. 

Persahabatan juga tidak ditentukan dari pihak pengasih atau kekasih saja. Persahabatan yang sejati itu muncul karena kebaikan menjadi obyek yang menyatukan dua pihak yang merasa kurang pada (proton philon) kebaikan itu . 

Namun, bagi Platon, relasi persahabatan itu harus dilandasi dengan eros yang mewakili tiga jenis rasa kurang dalam jiwa manusia: epithumia (kesenangan), thumos (harga diri), dan logistikon (pengetahuan rasional). 

Platon menawarkan logistikon sebagai landasan bagi pelaku relasi persahabatan karena itulah kebaikan sejati.

Cinta dalam Ranah Logistikon

Secara sederhana jiwa logistikon yang dimaksud Platon adalah jiwa yang berpusat di area sekitar kepala. 

Dalam pengertian itu, Platon memandang bahwa logistikon menjadi jiwa yang mampu meredam derasnya nafsu jiwa epithumia (jiwa yang berada di area perut sampai ke bawah) dan jiwa thumos (jiwa yang berada di area dada). 

Jiwa logistikon sangat penting untuk menguatkan fondasi cinta atau persahabatan. 

Tanpa jiwa ini, dua orang yang menjalin persahabatan akan terjerumus dalam relasi cinta yang mengutamakan hawa nafsu dan kebanggaan semata semisal seksualitas, tampilan fisik (cantik atau ganteng), ataupun harta kekayaan. 

Bagi Platon, kedua jiwa itu bukanlah sarana untuk mencapai eros (keindahan, kebaikan, atau keelokan). 

Persahabatan itu mesti menempatkan eros sebagai tujuan dan hal tersebut hanya bisa dimungkinkan oleh jiwa logistikon. 

Sedari awal Sokrates berulang kali menegaskan bahwa eros itu suatu kerinduan bagi dua pihak pelaku persahabatan yang memiliki aspirasi (kekurangan) yang sama. Sebab pada dasarnya manusia selalu merasa rindu atau menghasrati kebaikan. 

Senyatanya bahwa manusia hidup dalam pola resiprokal atau adanya hubungan timbal balik satu sama lain. Namun pola itu hanya bersifat relatif. 

Ada saatnya kita membutuhkan kapasitas orang lain dan ada saatnya pula kita bisa bertindak sendiri. 

Bagi Sokrates, resiprokal hanya merupakan efek dari komitmen pelaku persahabatan pada kebaikan yang ada di luar diri mereka.

Oleh karena itu, relasi cinta ataupun persahabatan hari ini mesti dilandasi dengan eros atau hasrat terhadap kebaikan. 

Sebagai pelaku persahabatan, manusia mesti menyadari bahwa kita adalah makhluk yang tidak sepenuhnya baik dan tidak sepenuhnya jahat. 

Apabila manusia merasa bahwa dirinya baik, maka hasrat akan kebaikan itu tampaknya nihil. 

Selain itu, jika persahabatan dirajut oleh orang yang baik bersama yang jahat, maka kerinduan akan eros itu akan membias. 

Cinta antara dua insan perlu menempatkan kebaikan sebagai pihak ketika yang mengikat relasi itu. 

Tampaknya terlalu teoretis, tetapi kebanyakan yang terlalu praksis kerap  membawa mereduksi makna cinta. (*)
 
Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup K - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 00:00 WIB
Portugal
Portugal
1 - 1
DR Congo
RD Kongo
Grup L - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 03:00 WIB
England
Inggris
4 - 2
Croatia
Kroasia
Grup L - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ghana
Ghana
1 - 0
Panama
Panama
Grup K - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 09:00 WIB
Uzbekistan
Uzbekistan
VS
Colombia
Kolombia
Grup A - Matchday 2
Kamis, 18 Juni 2026 | 23:00 WIB
Czechia
Ceko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved