Opini
Opini: Ketika Jepang Menyamai Belanda dan Mengingatkan Indonesia
Olahraga sering menghadirkan simbol-simbol yang membuat manusia kembali merenungkan perjalanan masa lalu.
Generasi masa kini tidak lagi bertemu dalam medan konflik. Mereka bertemu dalam pertandingan sepak bola, perdagangan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kerja sama internasional.
Di situlah kemajuan peradaban menemukan maknanya. Bangsa-bangsa yang pernah terhubung melalui kolonialisme dan perang kini lebih sering dipertemukan oleh kompetisi yang damai.
Ketika peluit panjang berbunyi di Dallas, skor menunjukkan angka 2-2. Tidak ada pemenang mutlak dan tidak ada pecundang mutlak.
Namun pertandingan itu meninggalkan sesuatu yang lebih bernilai daripada tiga poin. Pertandingan itu mengingatkan bahwa kekuatan bukan hanya milik mereka yang memiliki sejarah besar.
Kekuatan juga dimiliki oleh mereka yang bersedia belajar, berubah, dan bekerja tanpa lelah selama bertahun-tahun. Jepang memperlihatkan hal tersebut kepada dunia.
Belanda tetap menjadi salah satu guru besar sepak bola internasional. Namun malam itu, Jepang menunjukkan bahwa murid yang tekun suatu hari mampu duduk sejajar dengan sang guru.
Dan bagi Indonesia yang pernah bersinggungan dengan kedua bangsa tersebut dalam lembaran sejarah yang panjang, pertandingan ini terasa seperti sebuah refleksi tentang perjalanan manusia.
Bahwa masa lalu penting untuk diingat, tetapi masa depan selalu ditentukan oleh keberanian untuk terus bertumbuh, memperbaiki diri, dan menolak menyerah ketika menghadapi tantangan yang tampak lebih besar daripada kemampuan kita sendiri. (*)
Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gergorius-Babo-06.jpg)