Selasa, 16 Juni 2026

Opini

Opini: Ketika Jepang Menyamai Belanda dan Mengingatkan Indonesia

Olahraga sering menghadirkan simbol-simbol yang membuat manusia kembali merenungkan perjalanan masa lalu.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI GERGORIUS BABO
Gergorius Babo 

Jepang memahami bahwa mereka tertinggal dalam sepak bola dunia. Namun bangsa itu tidak menghabiskan energi untuk meratapi ketertinggalan tersebut.

Sebaliknya, Jepang memilih membangun fondasi. Mereka menciptakan liga profesional yang sehat, memperkuat pendidikan pelatih, membangun akademi pemain muda, dan mengirim generasi terbaiknya belajar ke Eropa.

Pilihan itu mengingatkan pada transformasi Jepang setelah Perang Dunia Kedua. Ketika banyak negara hancur oleh konflik, Jepang membangun kembali masa depannya melalui disiplin, pendidikan, dan inovasi.

Di titik ini, sepak bola menjadi lebih dari olahraga. Sepak bola menjadi cermin bagaimana suatu bangsa memandang masa depan.

Ketika pertandingan dimulai di Dallas, Belanda langsung memperlihatkan identitasnya. Penguasaan bola yang tinggi dan sirkulasi permainan yang rapi menunjukkan mengapa De Oranje masih menjadi salah satu kekuatan penting dalam sepak bola internasional.

Jepang lebih banyak bertahan. Namun bertahan tidak selalu berarti menyerah.
Ada perbedaan besar antara bertahan karena takut dan bertahan karena memahami situasi. Jepang memilih yang kedua.

Mereka sadar bahwa Belanda memiliki kualitas teknis yang luar biasa. Namun mereka juga memahami bahwa pertandingan sepak bola tidak ditentukan oleh siapa yang menguasai bola paling lama.

Di sinilah pelajaran filosofis pertama muncul. Dalam kehidupan, seperti dalam sepak bola, dominasi tidak selalu identik dengan kemenangan.
Manusia modern sering terobsesi pada ukuran-ukuran yang tampak. 

Kita mengukur kesuksesan melalui angka, statistik, kekayaan, atau kekuasaan.

Sepak bola berkali-kali mengingatkan bahwa realitas jauh lebih kompleks. Ada faktor ketahanan, kesabaran, dan kemampuan bertahan menghadapi tekanan yang sering tidak tercatat dalam statistik.

Belanda akhirnya unggul melalui Virgil van Dijk. Gol itu terasa logis karena sesuai dengan jalannya pertandingan.

Banyak penonton mungkin mengira pertandingan akan bergerak menuju kemenangan Belanda. Narasi yang selama ini dikenal tampak kembali berjalan sesuai jalurnya.

Namun Jepang menolak menerima peran sebagai figuran dalam cerita orang lain. Mereka memilih menulis cerita sendiri.

Keito Nakamura menyamakan kedudukan. Gol tersebut bukan hanya mengubah skor, tetapi juga mengubah hubungan psikologis antara kedua tim.
Belanda kembali unggul melalui Crysencio Summerville. Sekali lagi, sejarah dan reputasi tampak berada di pihak mereka.

Namun Jepang kembali bangkit. Daichi Kamada memastikan pertandingan berakhir imbang melalui gol yang lahir menjelang akhir laga.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 02:00 WIB
Belgium
Belgia
1 - 1
Egypt
Mesir
Grup H - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 05:00 WIB
Saudi Arabia
Arab Saudi
1 - 1
Uruguay
Uruguay
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 08:00 WIB
Iran
Iran
2 - 2
New Zealand
Selandia Baru
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved