Opini
Opini: Ketika Jepang Menyamai Belanda dan Mengingatkan Indonesia
Olahraga sering menghadirkan simbol-simbol yang membuat manusia kembali merenungkan perjalanan masa lalu.
Di situlah letak keindahan sepak bola. Permainan ini memberi ruang bagi mereka yang terus percaya meski situasi terlihat tidak menguntungkan.
Jepang tidak memenangkan pertandingan. Namun Jepang memenangkan sesuatu yang sering kali lebih penting dalam perjalanan sebuah bangsa: rasa percaya diri.
Rasa percaya diri bukan sesuatu yang dapat dibeli. Rasa percaya diri dibangun melalui pengalaman menghadapi tantangan dan berhasil bertahan di dalamnya.
Bagi Indonesia, ada pelajaran yang sangat relevan dari kisah Jepang tersebut. Selama bertahun-tahun, sepak bola Indonesia sering terjebak dalam budaya hasil instan.
Kita ingin melihat perubahan besar dalam waktu singkat. Kita berharap satu pelatih, satu generasi pemain, atau satu turnamen mampu mengubah segalanya.
Jepang menunjukkan bahwa kemajuan memiliki ritme yang berbeda. Kemajuan lahir dari kesediaan untuk bekerja dalam waktu yang panjang dan sering kali tidak spektakuler.
Ironisnya, bangsa Indonesia mengenal Belanda dan Jepang melalui pengalaman sejarah yang pahit. Namun dari keduanya, terdapat pelajaran yang tetap dapat dipetik hingga hari ini.
Dari Belanda, Indonesia belajar tentang pentingnya sistem dan organisasi. Dari Jepang, Indonesia belajar tentang disiplin dan konsistensi dalam membangun masa depan.
Pelajaran tersebut terasa relevan ketika melihat perkembangan sepak bola nasional. Banyak negara besar lahir bukan karena memiliki bakat yang lebih hebat, melainkan karena mampu mengelola bakat yang ada secara lebih baik.
Pertandingan di Dallas juga mengingatkan bahwa sejarah bukanlah takdir. Belanda memiliki sejarah sepak bola yang lebih besar daripada Jepang, tetapi sejarah tidak mencetak gol dalam pertandingan hari ini.
Sejarah memberi fondasi. Masa depan ditentukan oleh apa yang dilakukan generasi sekarang.
Inilah alasan mengapa hasil imbang tersebut terasa begitu simbolis. Belanda mewakili warisan besar yang telah lama diakui dunia.
Jepang mewakili keyakinan bahwa kerja keras yang konsisten mampu mempersempit jarak dengan mereka yang lebih dahulu maju. Pertandingan itu memperlihatkan bagaimana tradisi dan transformasi dapat bertemu dalam satu lapangan yang sama.
Bagi Indonesia, pertandingan ini juga mengandung refleksi yang lebih dalam. Kita pernah hidup di bawah kekuasaan Belanda dan mengalami pendudukan Jepang.
Kini, puluhan tahun setelah kemerdekaan, kedua negara tersebut hadir bukan sebagai penjajah atau penguasa. Mereka hadir sebagai peserta Piala Dunia yang bersaing secara setara dalam arena olahraga.
Perubahan itu mengandung pesan kemanusiaan yang penting. Sejarah memang meninggalkan luka, tetapi sejarah juga dapat menjadi sumber pembelajaran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gergorius-Babo-06.jpg)