Opini
Opini: Mengapa Pendidikan Kita Terus Berubah Tapi Sulit Bertransformasi?
Pendidikan Indonesia mungkin merupakan salah satu sektor yang paling sering mengalami perubahan.
Oleh: Petrus Redy Partus Jaya
Dosen Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, dan Peneliti Bidang Evaluasi Pendidikan.
POS-KUPANG.COM - Pendidikan Indonesia mungkin merupakan salah satu sektor yang paling sering mengalami perubahan.
Kurikulum berganti, sistem ujian diperbarui, asesmen dimodifikasi, indikator mutu diperbanyak, dan berbagai program baru terus diperkenalkan.
Hampir setiap pergantian kepemimpinan menghadirkan kebijakan yang menjanjikan perbaikan. Perubahan seolah menjadi tanda bahwa pendidikan sedang bergerak maju.
Namun di tengah derasnya arus perubahan tersebut, muncul sebuah pertanyaan yang layak direnungkan: mengapa berbagai persoalan mendasar pendidikan tampaknya tetap bertahan?
Guru masih dibebani pekerjaan administratif yang menyita energi. Orang tua masih cemas terhadap nilai dan peringkat anak-anaknya. Sekolah masih berlomba mengejar berbagai indikator keberhasilan.
Baca juga: Opini: Perawat- Kekuatan Terbesar yang Terlupakan
Perguruan tinggi masih disibukkan oleh target-target kinerja yang terus bertambah.
Sementara itu, tidak sedikit peserta didik yang merasa bahwa sekolah lebih banyak menuntut mereka memenuhi standar daripada membantu mereka memahami diri dan dunianya.
Kita tampak terus bergerak, tetapi tidak benar-benar beranjak. Fenomena ini terlihat jelas dalam sejarah pendidikan Indonesia. Sejak kemerdekaan, kurikulum telah mengalami berbagai perubahan.
Setiap perubahan selalu membawa harapan bahwa pendidikan akan menjadi lebih baik. Namun di ruang-ruang kelas, guru sering kali menghadapi pengalaman yang sama: mempelajari istilah baru, mengikuti pelatihan baru, menyesuaikan dokumen baru, dan berusaha memenuhi tuntutan implementasi yang baru pula.
Belum sempat sebuah kebijakan benar-benar dihayati dan dievaluasi dampaknya secara mendalam, perubahan berikutnya sudah datang.
Dalam beberapa tahun terakhir, misalnya, publik menyaksikan perdebatan panjang tentang Kurikulum Merdeka, Asesmen Nasional, Rapor Pendidikan, hingga Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Perdebatan-perdebatan tersebut tentu penting. Namun menariknya, sebagian besar diskusi lebih banyak berkisar pada instrumen yang digunakan daripada tujuan yang ingin dicapai. Kita sibuk membahas alat ukur, tetapi jarang berhenti untuk bertanya: sebenarnya pendidikan itu untuk apa?
Pertanyaan ini penting karena mungkin di sanalah letak persoalan yang sesungguhnya.
Terlalu Fokus pada Instrumen
Salah satu alasan mengapa transformasi pendidikan sulit terjadi adalah karena energi reformasi kita lebih banyak diarahkan pada pergantian instrumen daripada peninjauan kembali tujuan pendidikan itu sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Petrus-Redy-Partus-Jaya.jpg)