Kamis, 11 Juni 2026

Opini

Opini: Kambing Hitam dalam Dunia Pendidikan

Apakah pendidikan masa depan masih membutuhkan metode pengajaran tradisional?

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI PETRUS MALI
Petrus Mali 

Oleh : Petrus Mali
Mahasiswa S2 Psikologi Pendidikan Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang.

POS-KUPANG.COM - Di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan meluasnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) di berbagai bidang, dunia pendidikan pun tak luput dari arus perubahan ini. 

Berbagai kemudahan ditawarkan: akses informasi tanpa batas, pembelajaran jarak jauh, hingga bantuan cerdas dalam menyelesaikan tugas.

Namun, di balik kemudahan itu, muncul satu pertanyaan besar yang terus diperdebatkan: Apakah kehadiran teknologi dan AI perlahan akan menggantikan cara berpikir manusia? 

Apakah pendidikan kita sedang diarahkan pada pola serba instan yang perlahan-lahan menghapus peran akal, rasa, dan nilai dalam diri manusia?

Di satu sisi, muncul anggapan bahwa metode pengajaran konvensional atau tradisional sudah ketinggalan zaman. 

Baca juga: Opini: Wajah Buram Keuangan Daerah

Cara mengajar yang berpusat pada guru, pembacaan buku pelajaran, dan interaksi langsung dianggap kuno, kaku, dan tidak lagi relevan dengan kebutuhan zaman. 

Tak jarang, cara ini dijadikan “kambing hitam” atas berbagai masalah pendidikan, mulai dari rendahnya minat belajar hingga kualitas sumber daya manusia, dengan cara berpikir dan refleksi  yang dangkal alias kurang menyentuh hati dan realita. 

Di sisi lain, ada juga yang menuding bahwa kemajuan teknologilah yang menjadi biang keladi, karena dikhawatirkan membuat peserta didik malas berpikir dan hanya terbiasa menerima informasi jadi.

Peran Metode Pengajaran Tradisional

Pertanyaan kemudian : Apakah pendidikan masa depan masih membutuhkan metode pengajaran tradisional?

Metode tradisional memang memiliki sisi kekurangan. Jika diterapkan secara kaku, ia bisa membosankan, membuat siswa pasif, dan terjebak pada pola satu arah. 

Namun, di balik kekurangan itu, terdapat nilai fundamental yang tak tergantikan. 

Pendidikan melalui interaksi langsung, pembiasaan, dan pengalaman nyata adalah cara paling efektif untuk menanamkan nilai Moral, Etika, Toleransi, dan pemahaman tentang kehidupan bermasyarakat. 

Melalui metode ini, peserta didik belajar mengenal alam, memahami lingkungan, dan membangun ingatan jangka Panjang yang melekat dalam perilaku.

Pendidikan sejati bukan sekadar soal mentransfer data atau informasi, melainkan proses pembentukan karakter, ketahanan diri, dan pemahaman mendalam tentang makna hidup. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved