Jumat, 12 Juni 2026

Opini

Opini - NTT dan Tantangan Kesepian di Tengah Budaya Komunal

Nusa Tenggara Timur (NTT) sering dipahami sebagai wilayah yang masih mempertahankan budaya komunal yang kuat.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Patrisius Marselino Kaha, mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang. 

Akibatnya, relasi yang dahulu dibangun melalui kehadiran fisik perlahan berubah menjadi relasi yang bergantung pada telepon dan media sosial.

Meskipun teknologi membantu menjaga komunikasi, ia tidak selalu mampu menggantikan kedalaman perjumpaan manusia yang nyata.

Jika Teologi Pembebasan klasik berbicara tentang pembebasan dari kemiskinan ekonomi dan ketidakadilan sosial, maka konteks zaman sekarang menuntut perluasan makna pembebasan.

Salah satu pendekatan yang menarik namun jarang digunakan adalah Teologi Relasional yang dipadukan dengan Teologi Pembebasan Eksistensial.

Teologi Relasional berangkat dari keyakinan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah yang hidup dalam relasi. Dalam iman Kristiani, Allah dipahami sebagai Tritunggal: Bapa, Putra, dan Roh Kudus yang hidup dalam persekutuan kasih.

Karena itu, manusia pada hakikatnya bukan makhluk individual, melainkan makhluk relasional. Kehidupan manusia hanya dapat berkembang secara utuh ketika ia mengalami hubungan yang sehat dengan Tuhan, sesama, dan dirinya sendiri.

Sementara itu, Teologi Pembebasan Eksistensial melihat bahwa bentuk penindasan modern tidak selalu berupa kemiskinan material.

Ada bentuk penindasan yang lebih tersembunyi, yaitu keterasingan manusia dari dirinya sendiri, dari komunitasnya, dan dari makna hidupnya. 

Dalam perspektif ini, kesepian bukan sekadar masalah psikologis, tetapi juga masalah teologis karena ia merusak hakikat manusia sebagai makhluk yang diciptakan untuk hidup dalam relasi.

Pemikir seperti Johann Baptist Metz berbicara tentang pentingnya dangerous memory atau "ingatan yang menggugat". Ia mengingatkan bahwa iman tidak boleh melupakan mereka yang menderita dan tersingkir.

Dalam konteks NTT, kelompok yang mengalami kesepian akibat migrasi, tekanan ekonomi, atau perubahan sosial perlu dilihat sebagai kelompok yang juga membutuhkan pembebasan. Mereka mungkin tidak miskin secara materi, tetapi mengalami kemiskinan relasi dan makna hidup.

Pendekatan ini memperluas pemahaman tentang dosa dan pembebasan. Dosa tidak hanya hadir dalam tindakan individu, tetapi juga dalam struktur sosial yang menghasilkan keterasingan.

Ketika sistem ekonomi memaksa keluarga hidup terpisah selama bertahun-tahun, ketika teknologi menggantikan kehangatan perjumpaan manusia, atau ketika masyarakat lebih sibuk dengan citra daripada solidaritas, maka muncul bentuk-bentuk ketidakadilan baru yang perlu direfleksikan secara teologis.

Menghadapi tantangan ini, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membangun kembali budaya perjumpaan yang menjadi kekuatan masyarakat NTT.

Tradisi hidup bersama, gotong royong, dan solidaritas sosial tidak boleh hilang di tengah modernisasi. Nilai-nilai budaya tersebut perlu dihidupi kembali, bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi sebagai kebutuhan manusia untuk bertumbuh dalam relasi yang sehat.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved