Opini
Opini - Siapa Saja yang Kena Dampak Atas Kenaikan BBM?
Kenaikan BBM tersebut sudah yang keempat kali dalam kurung waktu satu tahun 2026 ini. Walaupun hanya untuk BBM non subsidi.
Ada segelintir kelompok masyarakat yang kurang atau tidak merasakan dampaknya kenaikan harga BBM non subsidi. Siapakah kelompok ini?
Mereka adalah para petani rumput laut. Kenapa bisa seperti itu? Petani rumput laut menerima kecipratan melemahnya Rupiah terhadap ketiga mata uang kuat dunia tersebut.
Sistem pembayaran untuk bahan baku dan barang-barang yang produksi di Indonesia dan diekspor ke negara-negara lain menggunakan mata uang asing terkhusus mata uang Dollar Amerika Serikat.
Dengan pembayaran melalui Dollar maka para petani rumput laut akan mendapatkan penghasilan dua sampai tiga kali lipat. Ini sama seperti terjadi pada tahun 1997 anjloknya Rupiah terhadap Dollar, di mana para petani komoditi kakao di Pulau Flores mengalami kecipratan durian runtuh dalam memperoleh tambahan penghasilan berkali-kali lipat.
Bagaimana dengan kenaikan BBM non subsidi terhadap kelompok ini, tentu tidak. Karena ada keseimbangan antara pendapatan yang diperoleh sangat besar dengan pengeluaran yang besar pula setiap hari.
Namun hampir semua kita yang tinggal di NTT pasti akan merasakan dampak dari kenaikan BBM non subsidi. Walaupun BBM jenis Pertalite merupakan jenis subsidi tetap pada harga semula. Tetapi perlu diperhatikan bahwa kenaikan harga BBM non subsidi ini, akan memberi dampak yang kurang baik terhadap APBN dan APBD. Pada bulan Juli 2026 ini pemerintah kembali membuat APBN Perubahan dan APBD Perubahan. Perubahan anggaran ini sebagai dampak terhadap melemahnya Rupiah terhadap mata uang asing dan kenaikan BBM non subsidi. Jika APBN kita tidak kuat menahan gejolak ini, maka menanggung adalah masyarakat dalam bentuk pembayaran pajak dan pendapatan bukan pajak seperti kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT), dan jalan terakhir adalah pemerintah dapat menaikkan BBM subsidi yaitu Pertalite. Apabila pemerintah kembali menaikkan BBM termasuk Pertalite, maka yang terjadi adalah pengangguran dalam skala besar dan tingkat kemiskinan akan kembali mengalami peningkatan tajam, tanpa terkecuali NTT.
NTT merupakan salah satu wilayah dengan tingkat konsumtif cukup tinggi di Indonesia. Sebagaimana sektor hulu yaitu: pertanian, perikanan dan peternakan tidak memberi nilai yang signifikan dalam pergerakan barang dan jasa ke luar NTT. Artinya jika sektor hulu ini memberi tren positif dari tahun ke tahun, maka NTT bukan lagi menjadikan masyarakat konsumtif tetapi menciptakan masyarakat yang produktif. Banyak produk hilirisasi berasal dari luar NTT. Temuan kami sebagai ekonom muatan kontainer yang datang dari luar NTT selalu penuh, namun ironisnya akan sangat sedikit muatan kontainer tersebut dikirim kembali ke luar NTT. Setiap kebutuhan masyarakat NTT selama ini sangat tergantung dari luar NTT. Oleh karena itu, dengan kenaikan harga BBM non subsidi, maka akan dampak pula penambahan biaya pengeluaran kebutuhan sehari-hari masyarakat NTT. Namun pendapatan masyarakat NTT tidak mengalami kenaikan.
Saat ini harga barang-barang retail di pasar-pasar tradisional dan pasar-pasar modern mengalami kenaikan sejak bulan lalu. Dengan perilaku konsumtif masyarakat NTT, apakah mampu memenuhi semua kebutuhan? Tentu tidak.
Di satu sisi pendapatan masyarakat NTT tidak mengalami kenaikan, bahkan mengalami tren menurun sejak kenaikan BBM. Penurunan alokasi anggaran pemerintah untuk pembangunan juga memberi dampak pula pada penurunan pendapatan masyarakat.
Menurut hemat kami, penting resiliensi pemerintah melalui kebijakan yang strategis bersama masyarakat menghadapi krisis moneter jilid. (*)
Ikuti opini dan berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Dr-MAKB-Hallan-ok.jpg)